Hilang Omzet, Asrul Istiqomah Olah Limbah Tempurung Kelapa di Tengah Pandemi
Ekonomi

Hilang Omzet, Asrul Istiqomah Olah Limbah Tempurung Kelapa di Tengah Pandemi

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Tidak sedikit usaha kreatif di Kabupaten Purworejo kembang kempis bertahan di tengah wabah Korona. Pelaku home industri dipaksa survive jika tak ingin gulung tikar dini, meski, keadaan sama sekali tidak bersahabat. 

Hal itu salah satunya dialami oleh Asrul Hadi (30). Pemuda warga Desa Hardimulyo, RT 05 RW 02, Kecamatan Kaligesing itu tetap istiqomah memproduksi kerajinan tangan olahan limbah tempurung kelapa. Segala daya upaya mempasarkan produk olahanya terus dilakukan. Harapnya satu, tetap bertahan meski omset anjlok tak karuan. 

Ekspor saat ini masih berhenti, penjualan turun hingga 60 % dan omsetnya kini tinggal tersisa sekitar Rp 3 juta per bulan, keluhnya Minggu (10/1/2021).

Genap dua tahun menggeluti kerajinan tempurung kelapa, ia memang pernah merasakan pasang surut usaha yang dirintisnya bersama dua saudara kandungnya. Namun ia mengaku belum pernah sampai separah kali ini.  

Ini semacam ujian bagi saya, tentunya juga pengusaha serupa lainnya, ucapnya.

Dijelaskan, sejak mengawali usaha tahun 2017, kerajinan tangan tempurung kelapa yang ditekuninya sempat berjaya. Hampir semua produk buatannya laku keras, diminati pasar. Permintaan bahkan datang tidak hanya dari lokal, tetapi luar daerah seperti dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Jambi, Papua, Kalimantan bahkan Sumatera.

Pasar luar negeri (ekspor) juga jalan tembus, mengirim barang ke Hongkong, Singapura dan Malaysia sudah biasa. Mangkuk, gelas, teko, sendok dan perabot rumah tangga lain buatan Asrul dari tempurung kelapa sudah menyebar kemana-mana.

Hingga pandemi Covid-19 datang pada pertengahan Maret 2019. Pesanan mulai melambat perlahan, ekspor bahkan berhenti. Pelabuhan-pelabuhan di negara-negara pengimpor barang close, semua takut dengan Korona.

Selana ini saya kirim lewat kapal laut, sekarang semua negara menutup pelabuhan. Ada alternatif lain sebetulnya, menggunakan jasa pengiriman via pesawat udara, namun biayanya tak sebanding (mahal,red) alias rugi, ucapnya lirih.

Menurutnya, tidak bisa menyalahkan siapapun, sebab pandemi datang laiknya ujian. Asrul mencontohkan, menghidupkan sektor pariwisata saja pontang panting. Sementara bicara kerajinan atau cinderamata, tentu sangat identik dengan pariwisata. Ketika sebagian besar obyek wisata tutup, para perajin atau home industri terimbas secara langsung.

Jadi bukan bahan baku, pemasaran atau apapun, kalau ditanya kendala saat ini ya pandemi itu sendiri, ujarnya.

Bicara bahan baku, Asrul menyebutkan sangat aman, sebab tempurung kelapa mudah didapat serupa limbah, supplier Jogja juga masih mampu mengirim tempurung kelapa limbah pabrik pengolahan minyak 1200 batok kelapa sekali kirim.

Produksi juga masih bisa 200 buah per minggu, saya sudah gunakan mesin bor, gerinda, dan bubut. Ya kami kerjakan bertiga mulai pukul 08.00-17.00, katanya.

Asrul mengaku ide awal usahanya berangkat dari hobi memelihara burung. Suatu saat, ia membutuhkan tempat pakan burung dari tempurung kelapa, hingga akhirnya ada peluang saat banyak yang mulai melirik barang tradisional yang diola dari hasil alam.

Awalnya saya belajar secara otodidak, ingin bisa membuat kerajinan lain selain tempat umpan burung, saya pergi ke Bantul menimba ilmu kepada seorang perajin yang memiliki usaha kerajinan tempurung kelapa (Cumplung Aji) Bantul, Jogjakarta, kenangnya.

Setelah mahir menggunakan amplas kasar, amplas halus, memoles atau memberikan sentuhan dalam finishing produk. Mangkuk dan gelas tempurung kelapa buatanya akhirnya naik daun dan banyak dipesan. 

Produknya dijual seharga Rp 9 ribu - Rp 14 ribu per buah tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pengerjaan, ia juga bisa mampu membuat varian produk lainnya seperti teko tempurung kelapa) seharga Rp 45 ribu per buah.

Menurutnya, perajin atau home industri dalam kondisi pandemi wajib bersyukur. Meskipun penghasilannya menurun drastis, namun masih tetap bisa bertahan hidup.