Tanah Bergerak Masih Mengancam Pemukiman Warga
Peristiwa

Tanah Bergerak Masih Mengancam Pemukiman Warga

Purworejo,(purworejo.sorot.co)–Pergerakan tanah di Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo masih terus mengancam. Warga setempat diminta waspada karena terpantau pergerakan tanah masih cukup mengkhawatirkan, terlebih jika hujan dengan intensitas tinggi melanda. 

Musibah tanah bergerak terpantau terjadi di tiga desa, yakni Desa Tegalsari, Somoleter, dan Desa Kaliwungu. Belasan rumah rusak, puluhan warga mengungsi. Pemerintah dibantu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI/Polri terus mengupayakan keselamatan warga dengan membuat posko siaga di tiga desa tersebut.

Desa Tegalsari, merupakan desa terdampak paling parah akibat musibah tanah bergerak yang terjadi sejak Rabu malam (13/1/2021). Akibat kejadian itu, sebanyak 13 rumah dan satu mushola mengalami kerusakan, dua rumah diantaranya roboh, rata dengan tanah. 

“Sebanyak 13 kepala keluarga dengan total 42 jiwa masih kita ungsikan di rumah-rumah warga,” kata Kepala Desa Tegalsari, Urip Suyono kepada sorot.co, Minggu (17/1/2021) sore. 

Suyono mengungkapkan, hingga saat ini tanah di Desa Tegalsari, khusunya di Dusun Krajan RT 07 RW 08 masih bergerak mengancam hunian warga. Warga setempat terus siaga mengantisipasi gerakan tanah.

Pemerintah Desa, ujar Suyuono terus berkordinasi dengan Pemerintah Kabupaten untuk mengusahakan adanya hunian sementara bagi warga terdampak. Pasalnya kondisi di Dusun Krajan tidak memumingkinkan untuk kembali dihuni oleh warga. 

Meski demikian, pihaknya masih menunggu hasil mitigasi bencana geologi apakah nantinya lokasi tersebut masih dapat digunakan atau tidak.

Sementara itu, di Di Dusun Kalibang RT 3 RW 5 Desa Kaliwungu sebanyak 2 rumah mengalami rusak parah, sementara 16 rumah lainya mengalami retak-retak. Dua rumah yang mengalami rusak berat kini terpaksa tak lagi dihuni, mengingat keadaan tanah cukup labil. 

Dua kepala keluarga sudah mengungsi ke rumah lain, sementara yang lain masih menempati rumahnya tetapi kita terus pantau keadaan tanah. Jika hujan deras mereka siap kita ungsikan,” ungkap ketua RT setempat M Ahdori. 

Ahdori menyebut, tanah bergerak terjadi sejak Selasa (12/1/2021), namun puncaknya terjadi pada Kamis (14/10/2021). Sejak hari itu, katanya, dua warga sudah diungsikan dan seluruh warga untuk diminta siaga.  

Tanah bergerak juga terjadi di Desa Somoleter, terpantau sedikitnya 7 rumah terdampak bencana tersebut. Rumah-rumah warga mengalami keretakan. Tanah di lokasi tersebut tampak retak membuat rongga sebesar 5 cm. Warga terdampak terpaksa mengungsi jika malam hari, terlebih jika hujan deras terjadi. 

Camat Bruno, Netra Asmara Sakti mengungkapkan, pihaknya hingga kini terus melakukan kordinasi dengan Pemerintah Kabupaten. Pihaknya juga menunggu hasil mitigasi bencana untuk memetakan wilayah keretakan tanah yang terjadi di beberapa desa di Kecamatan Bruno. Saat ini, kata Sakti, pihaknya terus mengupayakan hunian sementara, khususnya untuk pengungsian warga terdampak. 

Hari ini (Senin) kita akan rapat kordinasi untuk persiapan mitigasi dan kita akan sampaikan data valid tentang kebencanaan yang terjadi,” katanya. 

Penanganan kita lakukan dengan dua model, pertama kita siapkan rumah kosong untuk ditempati, kita siapkan semuanya dari mulai MCK kita perbaiki jika rusak. Kita juga tengah menyiapkan lahan untuk pembangunan hunian jika nantinya rumah-rumah warga tidak mungkin lagi untuk ditepati,” imbuhnya.