Soal Monumen Tentara Pelajar, DHC 45 Soroti Patung Garuda Diganti Anak SD
Peristiwa

Soal Monumen Tentara Pelajar, DHC 45 Soroti Patung Garuda Diganti Anak SD

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Dukungan atas penolakan Komunitas Masyarakat Peduli Purworejo (KMPP) terhadap kebijakan renovasi Monumen Perjuangan Tentara Pelajar (TP) Kabupaten Purworejo terus mengalir. Kini Dewan Harian Cabang (DHC) '45 Kabupaten Purworejo turut menyuarakan penolakan dan meminta pemerintah kabupaten mengembalikan monumen seperti sedia kala. 

Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan '45 Kabupaten Purworejo (DHC '45) juga membuat surat dukungan terhadap aspirasi KMPP yang ditujukan kepada Bupati Purworejo dan Ketua DPRD Purworejo. 

Dalam surat yang ditandatangani Ketua DHC '45 HR Istiharto dan Sekretaris Soekoso DM, lebih fokus menyoroti penggantian patung Garuda Pancasila dengan patung pelajar pada puncak pilar utama.

Menurut Soekoso DM, penggantian tidak tepat apalagi dengan menempatkan patung pelajar di puncak pilar, sedangkan lambang Garuda Pancasila diposisikan lebih kecil dan rendah, serta hanya sebagai latar belakang bersama tiga patung pejuang TP lainnya.

Pihak DHC '45 mengaitkan pemindahan patung itu dengan UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara. 

Meski tidak dalam kerangka resmi kenegaraan, namun tetap dipandang janggal dan ironis mengingat lambang Garuda juga terletak dalam satu kesatuan monumen, yang dibangun di jalan protokol strategis di pusat kota, terangnya, Senin (18/1/2021).

Secara historis, lanjutnya, pembangunan monumen oleh Bupati H Soepantho bertujuan sebagai pengingat generasi penerus bahwa Purworejo pernah menjadi kancah peperangan pada masa 1945 - 1949. Sebagai pengingat, dibuat patung Garuda Pancasila, Ahmad Yani berpakaian Heiho, pejuang gerilya dan patung Tentara Pelajar. 

Adapun lambang negara Garuda Pancasila adalah atribut pemersatu bangsa, dan harus diletakkan pada bidang yang tepat. Sehingga ketika puncak monumen dipasang patung anak sekolah, bangunan itu kehilangan maknanya sebagai Monumen Pejuangan, paparnya.

Dalam surat itu, kata Soekoso, DHC '15 juga menyoroti desain monumen yang diberi warna meriah yang dinilai kurang tepat.

Kami usulkan agar dicat warga batu atau gelap, agar tampak lebih anggun dan berwibawa, coba bandingkan dengan Tugu Muda Semarang, tandasnya.