KOIN Dalam Pusaran Polemik, Program Apik yang Bikin Resah Publik
Ekonomi

KOIN Dalam Pusaran Polemik, Program Apik yang Bikin Resah Publik

Purworejo,(purworejo.sorot.co)–Program penggemukan domba ‘Ngingu Bareng’ yang dimotori oleh Koperasi UMKM Indoensia (KOIN) Kabupaten Purworejo kini berada di tengah pusaran polemik. Program yang digadang bakal menjadi program peternakan unggulan, saat ini justru dihadapkan dengan segudang persoalan yang bikin resak publik.

Sejak digulirkan, KOIN memang cukup akrab dengan pelbagai masalah, 19 Agustus 2019 menjadi awal KOIN menancapkan usaha koperasi di Purworejo. Saat itu, sepak terjang KOIN ditandai dengan pendirian 170 kandang di Kecamatan Gebang. Mimpi besar pembangunan 10.000 kandang dicanangkan oleh KOIN.

Tidak lama berselang, dalam tempo singkat KOIN diterpa konflik internal. Perpecahan di tubuh KOIN terjadi, puncaknya KOIN periode pertama bubar, hal itu ditandai dengan pembongkaran seluruh kandang yang telah dibangun di Kecamatan Gebang.

Tak hanya bubar, KOIN meninggalkan pekerjaan rumah bagi Muspika Gebang, kerusakan jalan akibat pendirian kandang hingga kini tak pernah terselesaikan.

Kemudian, dibawah manajemen baru, KOIN terlahir kembali, dibawah kepemimpinan Direktur Kemitraan, Ali Rif’an, KOIN menebarkan taringnya. Program Ngingu Bareng dilanjutkan. Sejak itu pembangunan kandang kembali dilakukan. Akhir 2020, target 10.000 kandang bakal dikebut dan realisasi pengisian domba terus diwacanakan, meski gagal diwujudkan.

Puncaknya, 5 Desember 2020, syukuran geden digealar di salah satu kandang milik mitra KOIN asal Desa Karangwuluh Kecamatan Kutoarjo. Acara digelar sebagai ungkapan syukur atas pengisian bibit domba.

Pengisian tersebut menjadi realisasi perdana program Ngingu Bareng. Realisasi program yang telah dinanti. Sebagai percontohan, 60 ekor domba diisi saat itu.  Kabar tersiar, berita tersebar ke seantero Purworejo. Berita tersebut menjadi angin segar bagi mitra.

Dalam penantian panjangnya, kini lamat-lamat program kemitraan tersebut bakal segera terealisasi. Pikir mitra saat itu, namun, target realisasi program gagal terlaksana. Jadwal pengisian bibit domba yang sudah dicanangkan, urung diwujudkan.

Alih-alih menjadi percontohan yang baik, domba di tempat Cahya, Desa Karangwuluh itu justru ditarik kembali oleh pengurus KOIN. Sebab domba yang dikirim oleh supplier dianggap tidak memenuhi standar spesifikasi yang disyaratkan.

“Ada wanprestasi dari supplier bibit, yang dikirim bibit yang tidak sesuai spek, Ya terpaksa kita tarik kembali,” ungkap Direktur Kemitraan Ali Rif’an saat dikonfirmasi sorot.co, Sabtu (20/2/2021) sore.

Usai peristiwa itu, hingga kini KOIN belum merealisasikan kembali pengisian bibit. Kembali ke wacana. Wacana realisasi yang tak kunjung jelas. Seperti yang sudah-sudah.

Ditengah situasi tak menentu, penyerta modal KOIN, PT Mega Gemilang Jaya justru diterpa isu miring, MGJ diadukan ke polisi oleh salah satu kontraktor pembuat kandang, PT Ilver Jaya Pratama atas tuduhan penipuan. Silang argument tak terhindar, masing-masing pihak merasa dirugikan dan merasa paling benar.

Tidak berpengaruh, itukan urusan MGJ dengan Ilver (IJP), kita tetap jalan, program tetap berjalan,” kata Ali Rif’an menanggapi.

Permasalahan tersebut mengundang perhatian publik, khususnya mitra. Hal itu disikapi dengan tegas, sejumlah mitra meminta sertifikat tanah milik mereka yang kini dalam pengusaan KOIN yang dijadikan jaminan kemitraan dengan KOIN. 

Namun, Barodi, salah seorang mitra asal Desa Ketawangrejo mengaku dipersulit. Ia harus meminta sertifikat sampai empat kali kepada pihak KOIN. Sebagai mitra, Barodi telah menjalankan segala bentuk kewajibanya, dan menyerahkan seluruh dokumen persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk menyerahkan sertifikat yang diminta. 

Sudah, sertifikat (Barodi) sudah kita berikan hari ini, kebetulan kemarin yang pegang sertifikat bagian penyimpanan masih di Jakarta. Untuk hari ini sekitar 6 (mitra) yang mengambil sertifikat. Memang tak sarankan diambil dulu sertifikatnya, karena statusnya kemarin kan mereka titip, karena belum resmi kita minta, jelas Ali Rif’an.

Kalau untuk sertifikat kita tidak mewajibkan, letter c pun bisa, sertifikat itu hanya ingin memastikan saja bahwa tanah tersebut benar-benar miliknya sendiri,” imbuhnya.

Niat pengambilan sertifikat tidak hanya dilakukan Barodi. Salah satu mitra yang tidak bersedia disebutkan namanya saat konfirmasi melakukan hal senada. Ia mengaku kecewa dengan manajemen KOIN yang tak kunjung merealisasikan program.

Besok Selasa rencana mau saya ambil (sertifikat) bareng-bareng sama teman-teman mitra, selain itu kami juga akan meminta kejelasan realisasi program,” katanya.

Ketidak jelasan realisasi program memang menjadi faktor mitra merasa cemas, was-was, dan memilih mengamankan sertifikat tanah milik mereka. Bahkan sejumlah mitra telah berkirim surat ke DPRD Kabupaten Purworejo untuk meminta pendampingan terkait realisasi program Ngingu Bareng.

Sudah ada surat ke kami, isinya menyangkut realisasi program KOIN, masyarakat meminta agar segera dilakukan pengisisan Domba,” ungkap Ketua DPRD Dion Agasi.

Jika direalisasikan, program Ngingu Bareng merupakan program apik. Program kemitraan dengan sistem koperasi yang menggiuarkan. Dengan iming-iming laba bersih satu unit kandang sebesar Rp 10.897.709 per panen selama tiga bulan, tak ayal program ini telah berhasil menggaet sebanyak 3000 lebih mitra di Kabupaten Purworejo.