Bantah Covidkan Ibu Hamil, RSUD Tjitrowardojo Sebut Sudah Sesuai Prosedur
Peristiwa

Bantah Covidkan Ibu Hamil, RSUD Tjitrowardojo Sebut Sudah Sesuai Prosedur

Purworejo,(purworejo.sorot.co)–Direktur RSUD Tjitrowardojo,  dr H Kuswantoro, M.Kes membantah adanya upaya mengcovidkan Sriwasiati pasien ibu hamil 8 bulan asal Desa Mlaran Kecamatan Gebang. Ia menegaskan, pihaknya telah memberikan penanganan terhadap pasien sesuai prosedur.

Seperti diwartakan sebelumnya, puluhan warga Desa Mlaran menggruduk RSUD Tjitrowardojo, Minggu (23/1/2022). Warga menilai pihak rumah sakit mengcovidkan Sriwasiati saat akan menjalani perawatan di RSUD Tjitrowardojo. Akibatnya Sriwasiati harus kehilangan nyawa bayi dalam kandunganya karena tidak mendapat penanganan intensif.

Apa yang kami lakukan telah sesuai dengan Putusan Mentri Kesehatan tentang Tata Laksana Covid-19 tahun 2021,” ungkap Kuswantoro, Selasa (25/1/2022).

Ia menjelaskan, bahwa pasien atas nama Sriwasiati masuk IGD pada pukul 16.45 WIB. Pada saat itu kondisi pasien dalam keadaan kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan segera. Pasien ditangani langsung oleh 5 dokter, yakni dokter spesialis kandungan, paru, anastesi dan terapi intensif, jantung, serta penyakit dalam. 

Saat tiba di IGD, kata Kuswantoro, pasien secara klinis berada dalam kondisi buruk akibat pneumonia atau sesak nafas, maka pasien diisolasi untuk mendapatkan perawatan khusus.

Jadi surat pernyataan yang diminta untuk ditandatangi itu adalah surat persetujuan isolasi. Untuk isolasi ini tidak hanya berlaku bagi pasien covid, tetapi juga untuk penyakit menular. Jadi bukan surat pernyataan covid-19,” ujar Kuswantoro.

Karena ini musim covid, keluarga berasumsi bahwa pasien dicovidkan. Padahal tidak (dicovidkan). Dalam kondisi kritis, entah positif covid atau tidak pasien tetap perlu isolasi,” imbuhnya.

Kemudian, lanjut Kuswantoro, sekira pukul 20.00 WIB pihak keluarga memutuskan untuk membawa pulang pasien. Meski sempat dilarang dan mendapat edukasi tentang keselamatan bayi, namun keluarga tetap meminta untuk mencabut berkas pasien dan bersedia menandatangi surat pernyataan dengan segala resiko.

Padahal saat itu tim medis sedang berusaha menyelamatkan janin yang kondisinya melemah. Tapi karena mereka minta pulang paksa, kami tidak bisa memaksa,” katanya.

Pada pukul 21.00 WIB pasien kembali ke RSUD Tjitrowardojo, saat itu tim medis kembali menangani pasien secara maksimal. Namun sayang, pada pukul 22.45 WIB denyut jantung bayi berhenti dan secara medis dinyatakan meninggal dalam kandungan. Hari berikutnya, Minggu petang pukul 18.45 WIB bayi tersebut lahir secara spontan.