Lebih Pentingkan Akademik Dibanding Karakter, Sekolah Bertanggung Jawab Buat Kenakalan Remaja Makin Marak
Pendidikan

Lebih Pentingkan Akademik Dibanding Karakter, Sekolah Bertanggung Jawab Buat Kenakalan Remaja Makin Marak

Purworejo, (purworejo.sorot.co)--Sekolah merupakan tempat untuk meningkatkan kualitas murid. Dengan adanya peningkatan sumber daya manusia, bisa dipastikan suatu daerah, bangsa, hingga negara akan mengalami kemajuan pesat. Hal serupa juga berlaku untuk sebaliknya.

Sebagaimana diterangkan oleh anggota Komisi D DPRD Purworejo, Hendricus Karel, kualitas di sini terdiri dari kompetensi dan juga secara karakter. Kompetensi ibarat rumput ilalang sementara karakter ibarat padi. Dalam hal ini saat kita menanam padi pasti tumbuh ilalang, sementara menanam ilalang mustahil tumbuh padi.

"Mendidik perilaku baik, masih juga terselip keburukan. Perilaku buruk itu akan berkembang sendiri, tak usah diajari. Yang jadi soal, apa yang harus dilakukan sekolah agar kompetensi murid berkembang baik dengan karakter sebagai fondasinya?," beber dia, Minggu (17/09/2017) siang.

Ia menambahkan, selama ini, seringkali adanya anak-anak yang tidak bisa mengerjakan soal ujian dan tak punya prestasi hebat membuat sebagian besar orangtua dan guru mengalami stres. Citra diri mereka seolah terancam dengan keadaan tersebut. Tapi terkadang ada beberapa hal yang seharusnya fundamental dan tidak berbasis akademis justru dilupakan. Seperti ketika melihat ada anak yang tak disiplin dan suka terabas aturan. Atau juga ketika justru guru maupun orang tua sangat cuek ketika melihat anak membuang sampah di sembarang tempat. Kesalahkaprahan dalam menganggap kompetensi merupakan segalanya ini menurut Karel harus segera dihilangkan untuk mendapatkan hasil maksimal dalam pendidikan anak.

"Simbol-simbol kejayaan dan kecerdasan begitu didewa-dewakan. Segala cara dihalalkan untuk raih kompetensi. Sebaliknya, karakter terlanjur disepelekan. Padahal kompetensi tanpa karakter, hasil yang ada hanya kerusakan," ucapnya.

Lebih lanjut, selama ini sekolah atau tenaga pendidik kurang menganggap tindakan penyimpangan seperti mencontek, menghina teman, tak disiplin, baku hantam antar murid di kelas hanya sebatas kenakalan yang wajar dan tak harus ditangani secara serius. Lagi-lagi hal ini disebut Karel sebagai kesalahan mendasar sistem pendidikan Indonesia. Seharusnya, setiap sekolah mempunyai komitmen, konsistensi, dan kreativitas untuk merancang sistem pendidikan yang bisa mengatasi perilaku buruk murid. Dengan adanya perlakuan semacam ini, bisa disebut sekolah telah melakukan tugas pokoknya dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dalam hal ini membentuk manusia yang unggul secara akademik maupun perilaku dan karakter.

"Maka pertanyaannya, apakah guru-guru sudah disiapkan jadi agen pendidik untuk bisa atasi masalah perilaku buruk murid di kelas? Potret suasana kelas yang super gaduh, tak disiplin, intoleran, mengizinkan tindak kekerasan sesama murid, tanda tak adanya keseriusan dalam memperbaiki perilaku murid. Apa resiko terbesar jika sekolah abaikan soal karakter murid?," tanyanya.

Ia menjelaskan jika sikap buruk yang ditunjukkan murid di kelas adalah isyarat. Sayang tanda-tanda itu kerap diabaikan dan tak diselesaikan secara tuntas. Ada beragam kemungkinan sikap buruk murid tak tertangani dengan baik. Yaitu sekolah memang mengabaikan persoalan karakter murid dan lebih memilih fokus dalam hal akademis. Kemdudian karena sekolah tak punya strategi menata karakter murid, dalam hal ini guru memang tak dilatih untuk mengenali dan menyelesaikan masalah perilaku murid. Dan menurut Karel lebih mengerikan adalah lantaran sekolah tak lebih berwibawa dari faktor-faktor eksternal (dampak negatif tayangan televisi, narkoba, senior) yang mempengaruhi terbentuknya sikap buruk para murid. Sekolah seolah jadi ladang tumbuh suburnya perilaku-perilaku menyimpang murid.

"Pada jaman saya sekolah masih dididik sikap tanggung jawab lewat aktivitas piket kebersihan kelas. Jika ada teman sakit, kita kumpulkan sumbangan dan jenguk ke rumahnya. Berbaris dan periksa kuku sebelum masuk kelas. Barisan tertib dan rapih, dan murid mencium tangan guru sebelum masuk kelas. Jika hendak bertanya, acungkan tangan dulu, dan baru berbicara setelah diizinkan guru," bebernya.

Sikap-sikap semacam ini meski sangat penting justru sangat diabaikan pada saat ini. Sehingga yang terjadi, kenakalan kaum pelajar semakin marak. Andai hal-hal baik seperti ini masih konsisten dibudayakan di sekolah sejak dini, jelas sekolah punya kontribusi besar dalam mengantarkan murid-murid jadi anggota masyarakat yang baik.

Sekolah jangan sampai Cuma menyumbangkan orang-orang terpelajar tapi tak terdidik ke tengah-tengah masyarakat,” tandasnya.