Wakili Indonesia di Pertukaran Pelajar, Siswa SMAN 1 Bawa Segudang Pengalaman
Pendidikan

Wakili Indonesia di Pertukaran Pelajar, Siswa SMAN 1 Bawa Segudang Pengalaman

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Rona kebahagian penuh rindu terpancar dari wajah Rifky Naufal dan Nabila Asysyifa Nur, siswa kelas 12 Mipa SMA Negeri 1 Purworejo. Wajah polos berpandar cahaya ilmu dibalut segudang pengalaman itu penuh kehangatan menyapa teman serta guru yang telah ia tinggalkan selama satu bulan. Ya, keduanya baru saja didapuk mewakili Indonesia dalam program pertukaran pelajar.

Selama satu bulan penuh, Rifky dan Nabila belajar di negeri orang. Rifky terpilih menjadi satu-satunya wakil Indonesia menimba ilmu di Jepang, sementara Nabila, terpilih belajar di Denmark bersama tiga wakil Indonesia lainnya.

Rifky dan Nabila berhasil lolos bersama sedikitnya 40 siswa dari berbagai daerah mengikuti program AFS Short Program atau program pertukaran pelajar jangka pendek yang difasilitasi oleh lembaga Bina Antar Budaya. Perjuangan keduanya untuk lolos tergolong tidak mudah, mereka harus mengikuti serangkaian tahap seleksi melawan sedikitnya 700an peserta dari seluruh Indonesia. Berkat perjuangan dan kegigihanya, Rifky dan Nabila berhasil lolos menjadi wakil Kabupaten Purworejo.

"Sebenarnya SMA 1 lolos 3 siswa, tapi yang satu yang dijadwalkan berangkat ke Amerika tidak jadi ikut. Akhirnya yang berangkat Syifa dan Rifky," ungkap Hendro Triatmojo, guru pembimbing keduanya, Jumat (10/11/2017).

Saat berbincang dengan sorot.co, Nabila dan Rifky mengaku tak menyangka berhasil lolos, mengingat perjuangan serta lawan yang dihadapi dalam seleksi merupakan siswa teladan dari berbagai daerah. Keduanya awalnya mengaku canggung melancong ke negeri orang, namun, niat mencari pengalaman dan belajar lebih menjadi semangat keberangkatanya belajar di luar negeri. 

"Karena sudah niat, dan memang impian ingin belajar di luar negeri, mantep aja kita berangkat. Disana kita banyak belajar," kata Nabila.

Nabila menceritakan, di Denmark, ia menimba ilmu disebuah sekolah di daerah Ranum. Selama 3 pekan, ia konsen belajar aneka mata pelajaran. Selama tiga pekan itu juga, ia menginap diasrama bersama siswa daerah setempat.

"Awalnya memilih di Jerman, tapi kebagian di Denmark, tiga minggu belajar, terus satu minggunya saya menginap di rumah orang tua angkat," kata Nabila.

"Disana mempelajari kebudayaan, sharing kebudayaan, sharing pengetahuan tentang negara Indonesia dan Denmark, serta ngetrip. Saya kan Muslim, jadi juga sering tukar pengetahuan agama," imbuhnya.

Menurut Nabila, Pendidikan di Denmark lebih simple, waktu pembelajaran lebih singkat dan lebih santai dibanding sistem pelajaran di Indonesia. Di Denmark siswa lebih diprioritaskan pada hasil tugas pembelajaran dan lebih mengasah ketrampilan siswa, sementara di Indonesia, lanjut Nabila pendidikan disampaikan lebih teoritis.

"Ya di sana misalnya belajar bahasa, maka kita lebih ditekankan pada project, mengarang cerita gitu-gitu, kalau kimia juga pada praktik lapangan," tandas gadis 17 tahun ini.

Sementara di Negeri Bunga Sakura, Rifky banyak menimba ilmu tentang teknologi. Ia mengaku memilih Jepang lantaran negeri tersebut dikenal sebagai negeri teknologi. Jepang menurut Rifky negeri yang maju namun tetap menjunjung nilai budaya. Meski sempat kesulitan dengan bahasa Jepang, namun ia mengaku mampu beradaptasi dengan mudah. Di Jepang, ia belajar di sekolah di daerah Kyoto.

"Kalau saya sekolah lalu pulang, tidak seperti Syifa (Nabila-red) dia di asrama. Memang saya senang dengan teknologi dan otomotif, dirumah juga bapak buka bengkel. Jadi memlih belajar teknologi," imbuh remaja asal Desa Pituruh, Kecamatan Pituruh ini.

Sementara Kepala Sekolah SMAN 1, Padmo Sukoco, mengaku bangga dengan prestasi kedua siswanya. Ia berharap, pengalaman yang telah mereka terima mampu menjadikan pelecut semangat untuk terus belajar. Ia berpesan, pengalaman serta ilmu yang mereka peroleh harus mampu diaplikasikan dengan baik, khususnya di sekolah.