Jadi Primadona di Pilgub Jateng, NU Harus Bijak Sikapi Perbedaan
Politik

Jadi Primadona di Pilgub Jateng, NU Harus Bijak Sikapi Perbedaan

Purworejo, (purworejo.sorot.co)--Pemilihan Kepala Daerah serentak pada bulan Juni diprediksi semakin memanas. Di Jawa Tengah akan menyajikan duel head to head antara Ganjar Pranowo - Taj Yasin dengan Sudirman Said - Ida Fauziyah.

Seperti diketahui, Pasangan Sudirman-Ida diusung empat partai yaitu Gerindra, PKS, PAN, dan PKB dengan total kursi sebanyak 42 kursi di DPRD Jateng. Sementara Ganjar-Yasin didukung lima partai dengan total 58 kursi di DPRD Jateng.

Baik Ganjar maupun Sudirman memilih tokoh NU untuk menjadi wakilnya. Taj Yasin ialah anggota DPRD Kabupaten Rembang yang juga merupakan putra dari Kyai Kharismatik NU, Kyai Haji Maimoen Zubair.

Sedangkan Ida Fauziyah merupakan anggota DPR RI dari fraksi PKB dan memiliki akar kuat Nahdliyin dan Ida sendiri merupakan politisi senior dan 2 kali memimpin Fatayat.

"Dengan sama-sama mengusung Cawagub yang berasal dari NU, hal ini membuktikan bahwa Ganjar maupun Sudirman sebagai kandidat Kepala Daerah menyadari bahwa untuk memenangkan pertempuran maka harus didukung oleh kalangan NU. Mengingat bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu basis massa NU," ungkap bidang Politik dan Hukum Ormas Suluh, Hasan saat berbincang sorot.co, Minggu (14/1/2018).

Menurutnya, dengan sama-sama mengusung Cawagub yang berasal dari NU, hal ini membuktikan bahwa faktor NU akan sangat menentukan dalam Pilgub nanti. Tidak bisa dipungkiri bahwa isu NU merupakan primadona di ajang Pilgub ini. Duel head-to head lanjut Hasan, berpotensi akan membuat suara NU terbelah ke dalam dua poros, antara poros Ganjar dan poros Sudirman. 

"Keterbelahan suara NU ini juga pastinya akan menjalar ke Kabupaten Purworejo sebagai salah satu kabupaten yang banyak kaum nahdliyin," katanya.

Pertarungan dua poros tersebut akan sedikit-banyak sekaligus berpotensi akan melahirkan perbedaan pilihan diantara warga nahdilyin di Purworejo.

"Keduanya sama-sama kader NU, diusung dua partai bernafas NU. Pastinya gesekan pilihan akan terjadi seperti misalnya antara kyai dengan Santrinya, ustadz dengan jamaahnya, dan Gus dengan para pengikutnya," imbuh Hasan.

Menyadari bahwa potensi gesekan antar warga nahdilyin akan terjadi, ia menghimbau kepada warga NU agar lebih cerdas dalam menentukan sikap dan jiwa yang demokratis serta siap menerima perbedaan pendapat.

Bahwa berbeda pilihan itu biasa. Dengan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan saling menghormati terhadap pilihan masing-masing,” pungkasnya.