Peluncuran Album Perdana, Predator Gugah Semangat Para Pecinta Musik Metal
Komunitas

Peluncuran Album Perdana, Predator Gugah Semangat Para Pecinta Musik Metal

Purworejo, (purworejo.sorot.co)--Band Deathgrind asal Kabupaten Purworejo, Predator, kembali hadir menggugah para pecinta musik cadas. Hadir dengan album baru, Predator memberi asa kebangkitan kembali musik Death metal di Kabupaten Berirama ini.

Album pertama berjudul End is Misery sukses dilaunching di Padepokan Mitra Kinasih, Pangen jurutengah, Purworejo. Peluncuran album baru tersebut menjadi jawaban atas keraguan pecinta musik tentang masa depan musik metal di Purworejo.

Hadirnya End is Misery berhasil membasuh dahaga para pecinta musik metal di Purworejo, bahwa musik metal belum dan tidak akan pernah mati.

Digawangi oleh Pambudi Agung Wibowo vocal, Fahmi Aziz guitar, Pandu Setra bass, dan Krisnantoro drums, Predator menjadi band metal yang mampu eksis sejak tahun 2009 silam. Sempat gonta-ganti personil, bersama End is Misery Predator memantapkan diri sebagai deathgrind band bergaya sedikit florida death metal dipadu dengan nuansa death metal indonesia yang khas.

Ini pencapaian yang cukup menguras energi. Berkat kerjasama tim, album ini berkasil kami lounching,” ungkap sang gitaris, Fahmi Aziz, Minggu (11/3/2018).

Predator terkenal sebagai pembaharu dalam musik death metal melalui debut mini album berjudul Sistem Drama Garuda pada tahun 2012. Sistem Drama Garuda berisi 5 lagu dengan mngusung tema politik yang sedang beredar di lingkup Indonesia. 

Pada tahun 2016, Predator mengeluarkan demo album yang dirilis oleh Genesis Production dari Jakarta. Namun tak bertahan lama di label record tersebut, Predator mereka memutuskan untuk keluar dan memilih Madness Records dari Purworejo untuk merilis album End is Misary.

End is Misery berisi 9 lagu dengan bergaya Inggris, berisi tentang cerita-cerita perjalanan Predator dan ruang lingkup seputar kehidupan sehari-hari. Album tersebut diharapkan mampu menjadi pelecut semangat band-band metal di Kabupaten Purworejo agar tidak lelah dalam bermusik.

Kami sangat berharap band-band metal di Purworejo terus berkarya, meski hari ini industri musik kurang berpihak pada genre metal, namun tentunya semangat bermusik dan berkarya untuk terus dilestarikan. Perjungan kami tidak mudah eksis di belantika musik metal,” kata Aziz.

Sementara itu, Krisnantoro atau akrab disapa Bendot berharap End is Misary ini mampu menjawab masa depan dan menjadi pelita bagi band-band metal yang saat ini mulai redup. Tidak adalasan, lanjut Bendot, untuk tidak konsisten dalam bermusik.

Band-band yang besar adalah band yang tidak larut dalam kubangan pasar industri, melainkan ia yang menciptakan pasar,” kata Bendot.