Lanting Khas Pituruh Laris Manis Jelang Lebaran
Ekonomi

Lanting Khas Pituruh Laris Manis Jelang Lebaran

Pituruh,(purworejo.sorot.co)--Kurang dari sepekan menjelang Hari Raya Fitri, pedagang dan produsen camilan kering kebanjiran rezeki. Hal ini lantaran makanan ringan kering memang menjadi sajian yang pas untuk para kerabat saat hari Lebaran datang.

Seperti permintaan terhadap makanan ringan lanting khas Purworejo. Camilan berbahan dasar singkong ini menjadi buruan menjelang Lebaran 2018 ini. Tak tanggung-tanggung, membludaknya pesanan membuat produsen lanting menjadi kewalahan.

Seperti yang dirasakan oleh Wage (60) salah satu produsen lanting di RT 03/RW 04 Dukuh Kulon, Desa Pituruh, Kecamatan Pituruh. Terlalu banyaknya pesanan yang masuk, membuat dia terpaksa menolak pelanggan karena mengingat keterbatasan jumlah bahan baku.

Bukannya kurang tenaga atau modal, namun karena keterbatasan bahan baku, sehingga terpaksa jumlah produksi terbatas,” ujarnya, Minggu (10/06/2018).

Selain sudah menjadi makanan khas dan favorit di kalangan warga Pituruh, makanan ringan lanting ini sudah merambah ke daerah lainnya. Tidak hanya di lingkup Purworejo saja, namun juga sampai ke luar kota seperti Kebumen, Yogyakarta, Jambi, bahkan sudah ke luar negeri seperti Malaysia. 

Lebih jauh Wage memaparkan, bahwa selama bulan Ramadan terlebih ketika mendekati Hari Raya Idul Fitri, produk lanting miliknya kebanjiran pesanan baik dari pelanggan maupun pendatang. Menurutnya, karena usia produksi lantingnya sudah 40 tahun, sehingga para pelanggan sudah banyak yang memesan dijauh-jauh hari.

Iya, kami kelola dari turun-termurun dari orang tua dan sekarang sudah generasi ke tiga,” katanya.

Untuk harga termasuk cukup terjangkau. Jika hari biasa harga Rp 20.000 per kilogram, akan tetapi menjelang Lebaran naik menjadi Rp 25.000 per kilogram. Adapun untuk bungkusan 5 kilogram harganya Rp 125.000. Wage mengungkapkan, kenaikan harga menjelang Lebaran ini dikarenakan keterbatasan bahan bakunya.

Pada hari biasa menghabiskan 1 kwintal, namun ketika menjelang Lebaran naik 100 persen menjadi 2 kuintal setiap harinya. Banyak pelanggan yang kecewa karena terpaksa kami tolak, hal ini karena bahan baku terbatas,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, menjelang Lebaran ini ia tidak melayani penjual eceran, dikarenakan dengan alasan menjaga harga di pasaran. Selain itu, lanting miliknya sengaja disediakan bagi para pemudik yang sudah setiap tahunnya membeli di sana.

Wage mengaku, dalam proses pembuatanya dibantu keluarga mulai dari Subuh sampai menjelang Magrib. Hal ini dikarenakan masih menggunakan cara tradisional yaitu dengan lesung, sehingga prosesnya cukup lama.

Adapun proses pembuatannya sendiri, mula-mula singkong ditumbuk menggunakan lesung sesaat setalah direbus. Dilanjutkan penggilingan dengan alat yang masih tradisional pula dengan diberi bumbu secukupnya.

Untuk proses akhir pembuatan lanting dengan membentuk angka 8 dan dilakukan penjemuran dengan alas daun kelapa kering, supaya tidak menempel dan membekas di lanting. Kemudian digoreng dan dilakukan pembungkusan.

Sementara itu, Agus (28) anak dari pemilik produksi menambahkan, untuk bahan baku pembuatan lanting ini, dirinya mendapatkan dari daerah Wonosobo. Wilayah tersebut sudah menjadi penyetok setiap harinya.

Rata-rata tiap hari menyetok 2 kwintal, sehingga memang produksinya cukup terbatas,” tandasnya