Gas Melon Meroket, Agen Tuding Warga Kalangan Atas Ikut Gunakan Gas Bersubsidi
Ekonomi

Gas Melon Meroket, Agen Tuding Warga Kalangan Atas Ikut Gunakan Gas Bersubsidi

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Fenomena kelangkaan serta melambungnya harga gas elpiji 3 kilogram atau gas melon di sejumlah wilayah Purworejo menjelang Idul Fitri ini diklaim bukan karena kurangnya stok dari Pertamina atau ketersendatan distribusi dari agen. Sulitnya masyarakat mencari gas melon lebih disebabkan jumlah pengguna yang meningkat drastis.

Koordinator Agen Elpiji 3 kilogram Wilayah Purworejo, Pandji Pranowo, saat dikonfirmasi mengungkapkan bahwa tidak ada pengurangan alokasi elpiji dari Pertamina untuk Purworejo. Sebaliknya justru ada penambahan selama menghadapi Idul Fitri.

Disebutkan, total alokasi harian gas melon untuk Kabupaten Purworejo sebanyak 18.500 tabung. Pada bulan Juni ini, Pertamina menambah 8 persen. Dirinya menyebutkan dengan adanya penambahan kuota sebanyak 8 persen, estimasi alokasi harian untuk memenuhi kebutuhan secara normal seharusnya mencukupi.

Seperti biasa jumlah pengguna gas elpiji 3 kilo pada perayaan Lebaran memang meningkat drastis. Hal ini disebabkan Purworejo menjadi salah satu kota tujuan mudik,” katanya, Selasa (12/06) malam

Menurutnya, sejumlah antisipasi telah dilakukan agen untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang lebaran. Salah satunya yakni, menambah jadawal distribusi walaupun hari libur. 

Tanggal 15 dan 16 Juni yang seharusnya libur kita tidak libur, tetap distribusi. Hanya tanggal 15 saat hari H lebaran kita libur, itu pun pasokan diganti untuk alokasi hari Minggu yang seharusnya libur. Antisipasi lainnya kita juga sudah sediakan ukuran 5,5 kilo dan 12 kilo, itu saja masih kurang. Jadi memang tingkat penggunaan elpiji menjelang lebaran ini meningkat drastis,” paparnya.

Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat kelas menegah ke atas yang masih menggunakan gas melon juga menjadi pemicu kelangkaan. Alokasi untuk warga kelas bawah kian berkurang dengan banyaknya pedagang musiman menjelang lebaran yang juga menggunakan gas melon.

Kita lihat banyak warung atau PKL dadakan dengan tingkat kebutuhan elpiji yang tinggi. Coba dicek juga di lapangan, masih banyak warga mampu yang menggunakan 3 kilogram,” ungkapnya.

Terkait melambungnya harga di tingkat konsumen atau eceran, Pandji tindak memungkirinya. Bahkan, di sejumlah desa harganya selisih jauh dengan harga eceran tertinggi (HET). Namun, pihak agen tak dapat berbuat banyak untuk mengontrol atau mengondisikan harga di tingkat pengecer karena tidak memiliki wewenang.

Harga dari pangkalan tetap Rp 15.500, tidak ada kenaikan. Pengawasan harga agen hanya berwenang sampai pangkalan, untuk tingkat pengecer kita tidak berwenang soalnya,” tuturnya.

Pandji menambahkan, di Kabupaten Purworejo terdapat 5 agen. Persebaran distribusi gas melon kini juga sudah merata dengan adanya minimal 1 pangkalan di 1 desa.

Semua desa sudah ada pangkalannya. Untuk desa yang kebutuhannya tinggi, bisa lebih dari 2 pangkalan,” tandasnya.