Angka Perceraian Tinggi, STAIAN Bentuk Lembaga Kursus Pra Nikah
Sosial

Angka Perceraian Tinggi, STAIAN Bentuk Lembaga Kursus Pra Nikah

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Kasus perceraian di Kabupaten Purworejo hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah diatasi. Minimnya pengetahuan membina rumah tangga yang baik, disinyalir menjadi penyebab utama retaknya hubungan pernikahan.

Menyikapi hal itu, Sekolah Tinggi Agama Islam An-Nawawi (STAIAN) Purworejo membentuk lembaga kursus pra nikah dan konseling keluarga. Lembaga tersebut menjadi satu-satunya wadah di Kabupaten Purworejo sebagai media pembinaan dan pembelajaran bagi calon pasangan suami istri.

Launching tersebut dilakukan bersamaan dengan seminar nasional problematika pendidikan pra nikah dan usaha pelestarian dalam perkawinan yang digelar di auditorium kampus setempat.

Seminar diisi oleh Direktur SAMAPA Parenting Surabaya Halilur Rohman MHI, Kepala Kemenag Purworejo Drs H Bambang Sucipto MAg, dan Panitera Muda Pengadilan Agama (PA) Purworejo Sutan Hakim SAG SH. Seminar tersebut diikuti oleh kepala KUA se Kabupaten Purworejo serta mahasiswa dan pelajar.

Ketua STAIAN, Hj Asyfa Khoirun Nisa MSi melalui Kaprodi Ahwal Syakhsiyah STAIAN Mustahal LC MSi mengatakan, data Kantor Kemenag Kabupaten Purworejo mengungkapkan bahwa dari kurang lebih 7.000 pernikahan di Kabupaten Purworejo per tahun, yang sebelumnya mengikuti kursus pra nikah hanya 822.

Kesadaran masyarakat untuk mengikuti kursus pra nikah masih cukup rendah. Padahal orang mengendarai kendaraan saja butuh SIM. Begitu juga mengarungi bahtera rumah tangga, tentu juga dibutuhkan pelatihan dan pembelajaran agar bahtera rumah tangga tidak kandas di tengah jalan,” ujarnya dihubungi Kamis (2/8).

Lembaga ini didirikan untuk masyarakat umum, terutama bagi warga masyarakat yang akan memasuki usia nikah. Bentuk kursusnya adalah pembelajaran selama 16 jam pelajaran dengan kurikulum dari Dirjen Binmas. 

Prinsipnya kami membantu warga masyarakat yang akan memasuki kehidupan baru berumah tangga. Kursus ini sangat penting bagi calon keluarga. Bahkan, yang sudah berkeluarga pun juga dapat mengikuti kursus ini. Peserta kursus ini nantinya akan memperolah sertifikat,” katanya.

Sayangnya, kata Mustahal, pasangan calon suami istri di Indonesia masih belum diwajibkan mengikuti kursus pra nikah. Tidak seperti di Malaysia misalnya. Padahal, pembekalan pengetahuan tentang pembinaan keluarga sangat dibutuhkan.

Jika diwajibkan, tentu mau tidak mau sebelum nikah mereka mengikuti kursus terlebih dahulu. Sebagai bekal pengetahuan, di Islam banyak kajian-kajian, kitab-kitab yang mengulas secara mendalam tentang baiknya sebuah hubungan keluarga, nah ini yang nantinya akan peserta kursus terima selama mengikuti kegiatan konseling,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purworejo, Drs H Bambang Sucipto dalam paparannya mengatakan, tujuan kursus pra nikah tersebut adalah memberikan bekal pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan penumbuhan kesadaran kepada remaja usia nikah tentang kehidupan rumah tanggan dan berkeluarga.