Tangkal Paham Radikalisme, Pelajar Dilatih Jiwa Patriotisme dan Cinta Tanah Air
Pendidikan

Tangkal Paham Radikalisme, Pelajar Dilatih Jiwa Patriotisme dan Cinta Tanah Air

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Maraknya paham radikalisme yang berkedok kegiatan keagamaan banyak menyasar ke lembaga pendidikan mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi. Kondisi itu menjadi perhatian serius Pengurus Cabang IPNU, IPPNU Kabupaten Purworejo.

Guna menangkal bahaya paham tersebut, organisasi pelajar Badan Otonom NU tersebut menggelar Islamic Student Pratiotism Training (ISPT), di SMA Negeri 6 Purworejo. Kegiatan yang digelar selama tiga hari tersebut diikuti oleh 60 siswa dari sekolah-sekolah negeri di wilayah Kabupaten Purworejo. Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Purworejo.

Ketua PC IPNU, Fatkhurrahman Wahid mengatakan, kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk ikhtiar untuk membentengi keutuhan bangsa Indonesia dari bahaya perpecahan. Menurutnya, indikasi perpecahan bangsa ini sudah mulai terlihat nyata.

Hasil kajian kami, para pelaku dan penyebar paham radikalisme tersebut justru menerima ajaran tersebut bermula saat yang bersangkutan aktif dalam organisasi kegiatan keagamaan sejak dari sekolah, khususnya sekolah negeri. Maka dari itu kami melakukan kegiatan ini selama tiga hari dari hari Sabtu lalu,” kata Fatkhurrahman saat ditemui sorot.co, Senin (01/10/2018).

Fatkhurrahman menambahkan, ISPT tersebut, menjadi jawaban atas keresahan para pelajar dari pengaruh ideologi radikalisme. Pasalnya, dalam ISPT tersebut mereka belajar bersama tentang Islam yang Rahmah, Islam yang memiliki kecintaan besar terhadap tanah airnya. Selain itu menambah jiwa patrotisme terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Para pelajar ini menjadi sasaran empuk bagi gerakan radikalisme. Karena mereka masih cukup labil. Terlebih jika pondasi pengetahuan keagamannya lemah,” imbuhnya

Fatkhurrahman mencontohkan, hasil temuan di lapangan kerap kali para pelajar dibenturkan dengan pertanyaan yang cukup mengganggu patriotisme pelajar sebagai anak bangsa. Mereka dijebak dengan pertanyaan yang sangat mendasar seperti lebih memilih mana antara membela agama atau membela negara.

Tentu jika hal ini tidak disadari, mereka akan mudah terjebak. Karena agama dan negara itu satu kesatuan sesuai apa yang telah disepakati oleh para founding father dan tidak perlu dipertanyakan kembali kecuali memiliki motif untuk menghancurkan negara. Negara tanpa agama akan buta, agama tanpa negara akan pincang,” tandasnya.

Selama tiga hari para siswa dan siswi dari 6 sekolah negeri di Kabupaten Purworejo mendapat 9 materi. Mulai materi ke-Islaman, ke-Indonesiaan dan sejarah bangsa Indonesia.