Kerajinan Anyaman Bambu Bertahan di Tengah Gempuran Produk Pabrikan
Ekonomi

Kerajinan Anyaman Bambu Bertahan di Tengah Gempuran Produk Pabrikan

Kemiri,(purworejo.sorot.co)--Derasnya peredaran barang-barang dari plastik, membuat produk tempat makanan atau besek dari bambu belakangan ini makin terpinggirkan. Mutmainnah (43) warga Desa Sutoragan, Kecamatan Kemiri, adalah satu di antara perajin produk perabot rumah tangga berbahan bambu yang masih bertahan di tengah gempuran produk pabrikan.

Mutmainah mengungkapkan, sebelum maraknya serbuan produk tempat makanan dari kertas dan plastik, banyak warga di desanya berprofesi sebagai perajin besek dari bambu. Namun kini satu per satu perajin memilih berhenti karena usaha lamanya dianggap tak lagi menguntungkan.

Dulunya banyak, karena memang desa sini termasuk banyak bambu. Sekarang tinggal beberapa orang,” ujarnya saat ditemui sorot.co, Selasa (02/10/2018) siang.

Dulu dirinya mampu menjual hingga ke beberapa kabupaten tetangga, bahkan sudah sering kebanjiran orderan. Namun seiring perkembangan zaman, omzet penjualan terus menurun. Dirinya pun menyadari hal ini akibat persaingan produk yang begitu ketat. 

Dirinya hanya mengandalkan penjualan hasil kerajinan dari pesanan pedagang yang biasa mengambil produk buatannya. Semua produk anyaman bambu yang ia buat memerlukan ketrampilan dan kecermatan khusus dan tidak semua orang dapat mengerjakan.

Saya sudah keturunan ketiga yang melanjutkan usaha amyaman bambu, dan saat kecil saya masih ingat ketika banyak orang yang pesan kesini, katanya

Dari anyaman tersebut, ia berhasil membuat berbagai macam jenis produk kerajinan tangan, di antaranya besek, kipas, penyaringan santan, kukusan atau penanak dan perabotan dapur lainya. Harganya pun bervariasi mulai dari yang termurah Rp 1.000 ribu hingga Rp 5.000.

Untuk setiap bambu rata-rata mampu menghasilkan produk antara 50-60 buah, tergantung ukuran bambunya,” jelasnya

Lebih jauh dirinya mengaku tak tahu sampai kapan lagi akan tetap bertahan di usaha kerajinan ini karena usia bertambah tua. Sedangkan upaya regenerasi sangat sulit dilakukan karena anak-anak dan cucu tak ada yang meneruskan. Sementara dari sisi pasar, produk anyaman bamboo sudah mulai tersingkir digantikan oleh produk pabrik yang lebih simpel.