Gaung Polemik Tak Berkesudahan, Perayaan Hari Jadi Purworejo Anyep
Peristiwa

Gaung Polemik Tak Berkesudahan, Perayaan Hari Jadi Purworejo Anyep

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Hiruk pikuk perayaan peringatan Hari Jadi Kabupaten Purworejo tak terlihat tahun ini. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, hari jadi Kabupaten Purworejo yang biasa diperingati setiap 5 Oktober kali ini terasa sepi tanpa ada kemeriahan dan perayaan yang penuh hingar bingar.

Di tengah polemik penetapan hari jadi yang tiada berkesudahan, sebagian masyarakat masih menantikan gebyar berbagai acara yang selalu tersaji saban tahunnya. Hingga kini proses rencana revisi Perda nomor 9 tahun 1994 tentang Hari Jadi Kabupaten Purworejo bergulir di tangan anggota DPRD.

Mantan Sekda Purworejo, Ir Akhmad Fauzi MM menyampaikan, mestinya lantaran Perda tentang Hari Jadi masih berlaku, perayaan hari jadi Kabupaten Purworejo ke-1.117 tahun 2018 ini tetap dilaksanakan seperti tradisi sebelumnya.

Ia menyayangkan sepinya peringatan hari jadi tahun ini karena tidak ada kirab budaya atau perayaan yang konon mampu menarik wisatawan.

Terus terang saya agak terheran-heran kenapa tanggal 5 Oktober yang telah disepakati sebagai hari jadi tahun ini anyep. Padahal sudah rutin menjadi ajang pesta rakyat setiap tahunnya. Bahkan perayaan hari jadi sudah menjadi event tahunan yang dinanti kehadirannya oleh masyarakat,” kata Fauzi.

Fauzi tidak mempersoalkan adanya inisiatif DPRD yang tengah bersiap mengajukan Raperda Perubahan Hari Jadi. Namun selama Perda nomor 9 tahun 1994 belum dicabut, secara legal formal 5 Oktober masih menjadi hari jadi yang resmi. 

Tahun ini Raperda Perubahan Hari Jadi kan baru direncanakan. Naskah akademiknya juga belum jadi. Artinya, 5 Oktober masih menjadi hari jadi dan mestinya diperingati atau dirayakan seperti tahun yang sudah-sudah. Ditinjau ulang itu sah-sah saja, namun hargailah kerja keras tim yang susah payah merumuskan hari jadi bertahun-tahun lalu itu,” tambahnya.

Dikatakan Fauzi, meski dirinya bukan anggota tim perumus hari jadi, namun ia sangat mengerti bagaimana kerja keras tim dalam merumuskan hari jadi tersebut. Menurutnya, kinerja tim pada waktu itu sangat bagus, rapi dengan prosedur analisis akademik yang exelent.

Lho exelent kok diragukan? O tidak diragukan, mereka para ahli bekerja dengan Term of Reference dari Pemda Purworejo, artinya mereka membuat analisis berdasarkan asumsi dan kriteria yang ditentukan oleh pemilik proyek,” tandasnya.

Fauzi mengaku beberapa waktu lalu dirinya diundang rapat di DPRD untuk dimintai pendapat mengenai wacana peninjauan kembali hari jadi Purworejo. Menurutnya, asumsi penetapan 5 Oktober meski bagus, netral, patriotik namun ada kelemahan.

5 Oktober ditetapkan dengan asumsi tanggal tertua yang menunjukkan adanya pemerintahan yang tertata di masa lalu, yang ditentukan lewat prasasti yang ditemukan. Asumsi tersebut mengandung kelemahan karena apabila ditemukan prasasti lain yang lebih tua otomatis tanggal 5 oktober gugur sebagai hari jadi,” katanya.