Berkaca Berita Bohong Penculikan Anak, Kemenkominfo dan Walubi Kampanye Tumpas Hoax
Peristiwa

Berkaca Berita Bohong Penculikan Anak, Kemenkominfo dan Walubi Kampanye Tumpas Hoax

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) menjalin sinergitas dengan berbagai kalangan masyarakat guna memberangus penyebaran informasi hoax yang dinilai kian merajalela seiring perkembangan dunia digital.

Kali ini kita menggandeng Wali Umat Budha Indonesia (Walubi) dalam usaha mencegah informasi hoax,” ungkap Peneliti Utama Puslitbang Aplikasi Telematika dan Informasi Komunikasi Publik Kemenkominfo Prof Dr Gita Gayatri MA usai mengisi kegiatan Bincang Digital yang difasilitasi Dinas Kominfo Purworejo, di Hotel Suronegaran, Kamis (8/11/2018) siang.

Dalam kesempatan itu, hadir sedikitnya seratusan anggota Walubi dari Kabupaten Purworejo, Kebumen dan Purwokerto. Tak hanya diisi dengan sosialisasi anti hoax, peserta juga mendapat pelatihan bisnis berbasis internet. 

Gita Gayatri menyebut, hoax sering kali menyebar akibat sebagian masyarakat yang kurang sabar ketika menerima informasi dari platform media sosial mereka. Lalu tanpa pikir panjang, lanjutnya, mereka menyebarkannya hingga menjadi viral, meresahkan dan dipercaya masyarakat.

"Contoh adalah kasus hoax terkait maraknya penculikan anak akhir-akhir ini. Akhirnya berdampak terjadinya aksi massa terhadap korban yang diyakini masyarakat sebagai pelaku penculikan. Padahal kabar penculikan itu adalah hoax," ungkapnya.

Ia meminta masyarakat tidak gegabah dalam menyebarkan informasi yang belum jelas validitasnya. Masyarakat harus mampu mengenali berita hoax, antara lain dengan meneliti narasumber, berita pembanding, konten tulisan hingga sumber berita.

"Jadi tidak asal terima lalu dibagikan, kalau itu hoax apalagi sampai meresahkan, penyebarnya terancam pidana Pasal 28 UU ITE," tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua 4 DPD Walubi Jawa Tengah Lusiana kemajuan teknologi infomasi membuat masyarakat rentan terpapar, bahkan ikut menyebarkan informasi hoax. Masyarakat, lanjutnya, harus mampu membedakan informasi hoax dan kabar yang sebenarnya.

Setelah paham, katanya, masyarakat dapat mengendalikan diri untuk tidak ikut menyebarkan informasi hoax.

Kami menilai sosialisasi cegah berita hoax penting, sebab pada era sekarang digital, anak bangun tidur, yang dicari adalah gadget, bukan makan pagi atau mandi,” katanya.

"Harapan kami kemampuan literasi masyarakat menjadi semakin baik," imbuhnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kominfo Purworejo Sigit Budi Mulyanto menambahkan, Pemkab juga akan berperan aktif dalam menangkal berita hoax dan ujaran kebencian. Saat ini, Kabupaten Purworejo cukup kondusif dari masalah penyebaran berita hoax.

"Kami akan terus melakukan sosialisasi kepada berbagai lapisan masyarakat, termasuk dengan melibatkan organisasi kemasyarakatan di Purworejo, media dan berbagai elemen lain," tandasnya.