Banyak Tanaman Buah Tidak Produktif, Dinas Nilai Perlu Lakukan Peremajaan
Ekonomi

Banyak Tanaman Buah Tidak Produktif, Dinas Nilai Perlu Lakukan Peremajaan

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Dinas Pertanian Peternakan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Purworejo, mencatat sebanyak 126.232 tanaman buah di Purworejo tidak produktif sepanjang tahun 2018. Kepala Bidang Tanaman Pangan Dan Hortikultura DPPKP Purworejo, Eko Anang Sofyan Waluyo mengungkapkan ratusan ribu tanaman tersebut terdiri dari 25 jenis buah komoditas andalan pertanian.

Menurutnya, penurunan produktifitas panen tanaman buah itu disebabkan oleh kondisi tanaman yang rusak dan telah berumur tua. Tercatat, terdapat empat jenis tanaman buah yang paling banyak masuk kategori tidak produktif. Diantaranya, buah duku (10.316), jeruk siam/keprok (11.748), Pepaya (32.774), dan petai (10.729).

Menyikapi hal itu, upaya peremajaan tanaman menjadi penting untuk segera dilakukan dengan harapan produksi tanaman tahun 2019 dapat meningkat lebih baik.

Ada beberapa tanaman yang memang sudah berusia tua dan rusak dan perlu peremajaan, mengingat tanaman yang sudah tidak produktif tersebut sulit membuahkan hasil yang optimal. Kami sudah melakukan pendataan dan sedang mengupayakan hal itu supaya segera dilakukan,” katanya.Kamis (3/1/2019).

Sementara itu, lanjut Anang, untuk dua jenis tanaman yang menjadi unggulan daerah seperti durian dan manggis penuruan produktifitasnya tidak terlalu buruk. Dari 237.321 tanaman durian, 1.241 diantaranya tidak produktif. Sedangkan manggis, tercatat 2.788 tidak produktif dari jumlah tanaman sebanyak 184.992. 

Untuk jenis tanaman unggulan buah seperti durian dan manggis ini terus kami kembangkan seiring naiknya permintaan. Selain itu Purworejo juga sudah memiliki bibit unggul untuk manggis dan durian yang kita perbanyak dan distribusikan kepada petani,” ujarnya.

Selain peremajaan tanaman, Anang juga mengungkapkan adanya kenaikan jumlah permintaan terhadap buah komoditas unggul. Bahkan, permintaan juga datang dari luar negeri sehingga ini dianggap peluang yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Jika bisa menembus pasar ekspor, harganya akan ikut naik. Sebagai contoh saat ini harga jual durian Rp 18.357 perkilo dan manggis Rp 5.635 perkilo. Kalau kita bisa ekpor harganya bisa naik 20-40 persen. Ini akan berdampak positif terhadap kesejahteraan,” jelasnya.

Hanya saja, kata Anang, kesiapan petani untuk menghadapi pasar internasional melalui ekpor perlu diupgrade. Untuk mencapai pasar ekpor konsistensi produksi dan kualitas produk buah perlu ditingkatkan. Diharapkan, petani dapat meningkatkan produksi baik dari segi kuantitas maupun kualitas produksi.