Demi Jadikan Anaknya Seorang Polisi, Yongki Relakan Gerobak Nasi Goreng Dijual
Sosial

Demi Jadikan Anaknya Seorang Polisi, Yongki Relakan Gerobak Nasi Goreng Dijual

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Kekurangan ekonomi tidak menyurutkan sebuah keluarga sederhana yang tinggal di RT 04/RW 01, Kelurahan Pangen Juru Tengah, Kecamatan Purworejo, untuk mewujudkan cita-cita putrinya menjadi seorang polisi. Pasangan suami istri Yongki Sindhu Cahyono (40) dan Roberta Erni Sugiyanti (40) yang tinggal di sebuah rumah kontrakan ini hidup dengan kesederhanaan dengan bekerja sebagai buruh serabutan.

Awalnya, pasangan ini ragu dengan keinginan anaknya sulungnya bernama Fransisca Nada Prajna Paramita (18) untuk bisa menjadi polwan. Keraguan itu muncul karena selama ini cerita yang beredar di masyarakat menyebutkan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk menjadi anggota polisi. Namun, keraguan pasangan ini terbantahkan saat Nada berhasil diterima sebagai siswa Dituk Bintara Polwan 47 di Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) di Jakarta Selatan.

Saya dengan cerita tetangga, katanya biayanya jutaan rupiah, sehingga sempat bayangkan bagaimana mungkin kami yang tidak mampu secara ekonomi ini bisa memenuhinya. Tetapi itu tidak kami sampaikan ke Nada karena khawatir mengurangi semangatnya,” ungkap Yongki, Senin (07/01).

Ia mengaku, tidak mengetahui anaknya mendaftarkan diri menjadi anggota Polri pada Agustus 2018 lalu. Yongki baru tahu saat Nada meminta uang untuk membeli 41 materai untuk proses administrasi pendaftaran. Sehingga, ia pun mulai memikirkan biaya untuk keperluan anaknya selama menjalani seleksi. Salah satunya dengan menyisihkan modal usaha berjualan nasi goreng yang sebelumnya ia tekuni. Karena kebutuhan bertambah, terpaksa ia menjual gerobak jualannya senilai Rp 4,5 juta dan utang di bank harian Rp 1,5 juta. 

Setelah tidak jualan, saya kerja sebagai buruh memasak di beberapa rumah makan. Itupun kalau ada yang memanggil, kalau tidak kerja serabutan lainnya. Untuk biaya tambahan kami terpaksa ngutang,” terangnya.

Dalam proses pendaftaran hingga seleksi Yongki berusaha keras untuk memenuhi seluruh kebutuhan anaknya. Diiringi dengan memberikan dorongan berupa motivasi guna memompa semangat anaknya. Keraguannya semakin hilang ketika melihat proses seleksi polwan yang dilaksanakan secara transparan dan nama calon pendaftar ditampilkan dalam tabel yang bersifat realtime, hingga ia mengetahui naman Nada bisa naik hingga lolos.

Prinsip saya, dengan usaha dan semangat, bisa mengantar Nada jadi polisi. Ternyata memang benar, tidak ada biaya lain-lain seperti dikatakan orang-orang,” ucapnya.

Lebih jauh Yongki mengungkapkan, Nada sendiri sudah lima bulan menjalani pendidikan dan akan diwisuda Maret 2019. Dirinya berharap Nada bisa konsentrasi penuh supaya dapat menyelesaikan pendidikannya. Ia juga berharap agar Nada bisa memotivasi dua adiknya, Yohana dan Gibran untuk tekun dalam menempuh pendidikan di sekolah.

Sementara itu, Fransisca Nada, mengaku senang akhirnya bisa menjadi calon polwan yang ia cita-citakan sejak kecil dan pernah ia sampaikan kepada orang tuanya saat masih duduk di bangku SMP. Alumni SMA 1 Purworejo ini mengaku termotivasi dan berusaha secara maksimal saat mengikuti seleksi, sehingga bisa jadi polwan. Ia pun berniat untuk membahagiakan orang tua sekaligus mengangkat nama keluarga.

Terpisah, Kapolres Purworejo AKBP Indra Kurniawan Mangunsong mengemukakan, rekrutmen anggota Polri dilakukan secara terbuka, transparan, akuntabel dan humanis. Sehingga dirinya berharap kepada masyarakat jika ada anak yang ingin menjadi bagian Polri jangan ragu-ragu untuk mendaftarkan diri.

Apapun agama, golongan, etnis dan kondisi ekonominya, silakan daftar Polri. Kalau memang memiliki prestasi, pasti bisa, buktinya pada Fransisca Nada,” ujarnya.