Kerap Nyolong HP di Pondok Pesantren, Seorang Buronan Diringkus
Hukum & Kriminal

Kerap Nyolong HP di Pondok Pesantren, Seorang Buronan Diringkus

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Jajaran Polres Purworejo berhasil meringkus SA (40), warga Cuweran Lor RT. 02/RW. 05, Desa Loano, Kecamatan Loano. SA ditangkap lantaran kerap melakukan tindak pencurian di pondok pesantren.

Tersangka diketahui sudah menjadi buronan polisi sejak lama lantaran membuat resah masyarakat karena tindakan pencurian yang seringkali terjadi. Aksi pencurian itu kerap kali dilakukan di lingkungan pondok pesantren Ma’hadil Ulumis Syarngiyah.

Kapolres Purworejo, melalui Kasat Reskrim, AKP Haryo Seto Liestyawan mengungkapkan, tersangka berhasil diamankan pada hari Selasa, tanggal 22 bulan Januari 2019. Bersama tersangka, diperoleh barang bukti berupa dua unit hanphone beserta dusbook hasil curian.

Setelah dilakukan pemeriksaan, telepon genggam tersebut merupakan milik santri Ma’hadil Ulumis Syarngiyah, Plaosan RT. 01 RW. 01 Kelurahan Baledono Kecamatan Purworejo. Aksi pencurian dilaporkan hilang pada tanggal 10 Maret 2017 lebih kurang pukul 04.30 WIB di Pondok Pesantren tersebut.

Setelah kami lakukan penyelidikan, kita mendapat dua tersangka, satu atas nama SA yang telah tertangkap, dan satu lagi AN, teman dari SA yang hingga saat ini masih menjadi buronan,” katanya.

Kendati hanya ditemukan dua barang bukti, terang Haryo, berdasarkan informasi dan pengakuan tersangka, terdapat lima orang yang menjadi korban pencurian SA dan rekannya. Total kerugian sementara berkisar Rp 7 juta. 

Ditanyakan mengenai aksinya, SA mengungkapkan telah melakukan pencurian di pondok pesantren bersama rekannya yang bernama AN. Ia mengaku dalam melancarkan aksinya dirinya dibonceng oleh AN menuju asrama santri pagi-pagi hari, sekitar pukul 04.30 WIB.

Sesampainya di pondok, SA kemudian memasuki kamar-kamar santri yang pintunya tidak terkunci untuk mencari barang-barang berharga yang dengan mudah ia gasak. Selanjutnya, hasil curian ia jual kepada orang yang membutuhkan dengan harga normal. Layaknya jual beli antara pedagang dan pembeli, tanpa perantara atau penadah.

Ia melakukan pencurian karena dilatarbelakangi masalah ekonomi, mengingat ia tidak memiliki pekerjaan yang layak untuk mencukupi keperluan keluarga sehari-hari.

Saya tidak ada maksud lain selain untuk membeli makan sehari-hari,” ujarnya.

Atas kasus tersebut yang bersangkutan dijerat dengan pasal 363 (1) ke-3 dan ke-4 KUHP tentang tindak pidana pencurian dengan pemberatan. Ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara.