KH Achmad Chalwani : Heroisme Santri Jarang Diajarkan di Sekolah
Pendidikan

KH Achmad Chalwani : Heroisme Santri Jarang Diajarkan di Sekolah

Purworejo, (purworejo.sorot.co)--Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah yang juga Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, K.H Achmad Chalwani mengungkap andil kaum pesantren yang besar dalam rangka melawan kolonialisme penjajah Belanda Jarang diajarkan di sekolah. Padahal tidak sedikit sosok santri revolusioner yang berjuang demi kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Hal tersebut disampaikan pada kegiatan Brimob dan Masyarakat Besholawat untuk Indonesia Damai dalam rangka Peringatan Maulid Nabi dan HUT Korps Brimob ke-74 yang digelar di Mako Brimob Subden 4/C Pelopor Kutoarjo Purworejo, kemarin malam. Kegiatan tersebut dihadiri oleh ribuan kaum muslim dari berbagai daerah di Purworejo.

Kyai kharismatik mantan anggota DPD RI ini menceritakan, dahulu ada seorang santri yang berani menentang penjajah Belanda ketika yang lain tidak ada yang berani. Santri itu bernama Abdul Hamid putra Sultan Hamengkubuwono III dari Ibu Pacitan.

"Abdul Hamid ini namanya kelak menjadi nama Kodam IV Jawa Tengah yakni Pangeran Diponegoro. Sayang Diponegoro yang pernah nyantri di KH Hasan Besari Ponorogo, mengaji Tafir Al-Quran kepada KH Baidhowi Bagelen Purworejo tidak pernah diajarkan dalam pelajaran sejarah," katanya.

Ia menambahkan, Pangeran Diponegoro tidak hanya santri, tapi juga guru tarekat Qodiriyah dan Sathoriyah. Akibat perlawanan yang sengit dari Pangeran Diponegoro medio 1825-1830, pemerintah Hindia Belanda hingga mengalami kerugian yang sangat besar. 

Contoh lainnya adalah pendiri Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara. Beliau seorang santri dari Kyai Sulaiman Zaenudin di Kalasan Sleman Jogjakarta.

"Namun sayang, sejarah Ki Hadjar Dewantara sebagai seorang santri ini tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah," tandasnya.

Karena latar belakang seorang santri, sambung KH Chalwani, maka wajar jika salah satu pendapatnya tentang pendidikan yakni, sistem pendidikan yang paling berhasil adalah sistem pendidikan Pondok Pesantren karena lingkungan pesantren sangat mendukung kegiatan pembelajaran.

"Pendapat tersebut disampaikannya berdasarkan pengalaman pribadi Ki Hadjar Dewantara. Termasuk pendirian Tamansiswa ini kan juga diilhami dari sistem pesantren. Maka sangatlah tepat jika TKM ini mengadakan pesantren kilat," katanya.

Menurut KH Chalwani, masih banyak lagi sejarah Pahlawan yang berjasa besar terhadap bangsa Indonesia yang berlatar belakang santri. Termasuk tokoh emansipasi wanita RA Kartini.

"Bahkan yang memiliki ide untuk menafsiri Al-Quran dengan bahasa Jawa agar mudah dipahami oleh masyarakat juga Kartini. Ide tersebut disampaikannya kepada KH Soleh Darat Semarang dan akhirnya betul-betul direalisasikan oleh KH Soleh," tandasnya.