Wartawan Senior Purworejo Meninggal Dunia
Peristiwa

Wartawan Senior Purworejo Meninggal Dunia

Purwodadi,(purworejo.sorot.co)--Wartawan dan sastrawan senior Atas Sampurno Danusubroto, telah berpulang pada Rabu (14/07/2021) sore. Almarhum meninggal dalam usia 72 tahun. Sosok almarhum yang dikenal teduh dan sederhana itu telah puluhan tahun mengabdi di dunia wartawan dan sastra, serta telah melahirkan berbagai karya baik cerpen maupun novel. 

Almarhum meninggal dunia di RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo dan langsung dimakamkan pada malam harinya di pemakaman Desa Bubutan, Kecamatan Purwodadi. 

Diungkapkan Sri Sayekti (71) istrinya, bahwa almarhum sudah mengeluh sakit sejak Kamis (08/07) lalu. Almarhum dibawa ke puskesmas pada Senin (12/07) dan kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Tjitrowardojo.

Pada hari Kamis almarhum belum mau dibawa ke dokter, lalu Senin semakin parah, posisi sudah tidak sadar lalu dibawa oleh cucu untuk periksa, kata Sri, saat diberikan santunan Jogo Wartawan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kabupaten Purworejo di rumahnya Desa Bubutan, Kecamatan Purwodadi, Kamis (15/07/2021).

Pria kelahiran Kabupaten Cilacap, yang lahir pada bulan April tahun 1949 itu meninggalkan satu orang istri, tiga anak, enam cucu dan satu cicit. 

Anak-anak merantau semua, yang satu di Sumbawa, yang dua di Lombok, saya di rumah bersama cucu dan buyut (cicit), ungkap Sri.

Sumanang Tirta Sujana, seorang wartawan dan sastrawan senior Purworejo yang juga merupakan kawan Atas Danusubroto merasa kehilangan sahabatnya itu karena almarhum merupakan seniornya, terlebih sesama alumni Persada Studi Club Malioboro.

Di Jogja almarhum seangkatan dengan penyair Linus Suryadi AG, Emha Ainun Najib (Cak Nun), Novelis Budi Sardjono, Penyair Iman Budhi Santosa. Penyair Darmanto Yatman, Arwan Tuty Artha dan yang lainnya, ungkap Sumanang.

Dijelaskan Sumanang, karya-karya dari Atas Danusubroto diantaranya adalah novel Trah, Sang Pangeran, Pisingsung Kang Wingit, Sak Kedeping Mripat dan masih banyak lagi. Novel Trah milik almarhum Atas yang diterbitkan oleh Narasi Yogyakarta merupakan salah satu novel berbahasa Jawa yang mendapat penghargaan tertinggi sastra Jawa yaitu renchage award pada tahun 2009.

Pak Atas memilih untuk berkarya digenre sastra cerpen dan novel, selain itu dia juga seorang wartawan yang masih aktif hingga masa tuanya, ujarnya.

Lanjutnya, sebagai kawan, Sumanang mengaku sangat kehilangan sosok sederhana dan teduh yang ada pada diri Atas, karena rekan diskusinya soal sastra telah tiada. Menurutnya, almarhum adalah wartawan dan sastrawan yang sangat bersahaja dan tidak pernah menunjukkan atribut seniman yang aneh aneh. Tidak semua orang diajak dan dipaksa bicara soal kesenian.

Dia tidak suka memaksakan pendapat, wawasannya tentang sejarah juga cukup bagus, novel-novelnya juga rata-rata sejarah yang dinovelkan, bahkan tulisannya Tjokronegoro menjadi rujukan dirubahnya hari lahir Kabupaten Purworejo, paparnya.

Sementara itu, Ketua PWI kabupaten Purworejo, Aris Himawan mengatakan, almarhum adalah wartawan senior yang telah melanglang buana bekerja pada beberapa media. Terakhir almarhum adalah wartawan untuk media majalah legalitas. Almarhum juga ahli sejarah, khususnya sejarah budaya di Purworejo.

"Cita cita bersama beliau adalah membukukan beberapa sejarah budaya lokal di Purworejo. Meninggalnya beliau referensi untuk itu jadi tidak ada," kata Aris.

 

Aris menambahkan, untuk bantuan yang diberikan kepada keluarganya berupa paket sembako dan uang. Dengan bantuan tersebut untuk menyemangati para wartawan di purworejo, khususnya bagi yang terkena musibah terpapar Covid-19 dengan nama program Jogo Wartawan.

"Untuk jogo wartawan merupakan penjabaran dari jogo tonggo yang dicanangkan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo di awal pandemi tahun lalu. Karena himbauan dari ketua PWI Jateng, agar PWI kabupaten dan kota membentuk jogo wartawan, atas imbauan itu, kita telah membentuk jogo wartawan," tuturnya.

Lebih lanjut, Aris juga minta kepada wartawan yang sedang melakukan tugas peliputan untuk tetap menjaga protokol kesehatan (prokes).

Kesehatan lebih utama dari pada liputan dilapangan. Kalau bisa dilakukan dengan tidak tatap muka atau kelokasi kejadian maka lakukan via telepon. Tapi tetap sesuai kaedah jurnalistik, tegas Aris.

Koordinator Jogo Wartawan PWI Kabupaten Purworejo, Marnie menambahkan bahwa, jika terdapat wartawan atau keluarganya yang sedang menjalani isolasi mandiri, untuk segera menghubungi PWI kabupaten Purworejo. 

Jogo Wartawan ini sebagai bentuk kepedulian sesama jurnalis di masa pandemi Covid-19 ini. Namun saya berharap agar teman-teman jurnalis selalu sehat dan berhati-hatilah ketika meliput berita. Utamakan Prokes 5M. Pakai dobel masker saat di tempat keramaian dan hindari kerumunan, tutur Marni.

Terpisah, Ketua Pewarta Purworejo, Edi Suryana juga mengaku sangat kehilangan sosok seorang wartawan senior. Almarhum dikenalnya adalah senior yang membimbing dan selalu memberi semangat saat sebelum maupun sesudah dirinya menjadi Ketua Pewarta.

Hubungan saya dengan almarhum sangat baik dengan para senior, terutama dengan almarhum, pungkas Edi.