<p>Ada Pasar Setan di Banyuurip, Ini yang Ditampilkan</p>
Budaya

Ada Pasar Setan di Banyuurip, Ini yang Ditampilkan

Banyuurip,(purworejo.sorot.co)-Aneh tapi nyata terdapat sebuah pasar yang seram, karena pasar tersebut bernama pasar setan. Untuk lokasi tidak jauh dari pusat kota Purworejo tepatnya di area pasar umpet ikut Desa Popongan, Kecamatan Banyuurip.

Pasar yang namanya menyeramkan itu, dilaunching beberapa waktu lalu, pada Sabtu (13/11) malam dengan dikemas layaknya pasar angkringan dengan menyajikan aneka menu masakan ringan dan gorengan serta minuman umum seperti kopi, teh dan lainya.

Pengelola pasar umpet, Hariyono mengungkapkan, dengan dinamakan pasar setan, karena di lokasi itu terdapat sejumlah topeng kayu dengan bentuk wajah menyerupai hantu dan aneka buto raksasa yang dipajang di setiap sudut lokasi pasar, dengan ditambahi sejumlah oncor dan bebakaran dupa menjadikan suasana pasar menjadi tampak seram.

"Pasar ini hanya diikuti beberapa pedagang saja, karena malam hari pada Sabtu malam dan pedagang lain menggelar dagangan seperti biasa di kedai pasar umpet pada Minggu paginya. Ini baru yang pertama kali dilaksanakan dan rencana pasar setan akan kami laksanakan secara kontinue di lokasi pasar umpet ini," katanya, Minggu (21/11/2021).

Dijelaskan, pasar setan itu dilaunching merupakan hasil kerjasama dengan seni kriya atau perajin kriya di Purworejo. Pasar setan digelar dengan tujuan untuk membantu para perajin kriya di Purworejo agar bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas. 

"Jadi di Purworejo ini ada perajin topeng dan kami ajak untuk kolaborasi, mungkin karena masa pandemi mereka tidak pernah mengadakan pameran atau ikut pameran, dengan kegiatan ini kita bisa ikut membantu para perajin kriya di Purworejo, hasil karya mereka kita pajang dan kita pamerkan agar bisa diketahui oleh banyak orang, oh ternyata di Purworejo ada perajin topeng yang bagus," ujarnya.

Lanjutnya, pasar setan, bukan saja dilaksanakan untuk memamerkan seni kriya, namun juga mengajak group seni kuda lumping yang baru terbentuk di Desa Semawung dengan nama group kuda lumping Gema Anom Budaya. Group kuda lumping itu tidak ditampilkan pada malam hari melainkan tampil pada siang hari untuk meramaikan suasana pasar.

"Kaitanya dengan jaran kepang atau kuda lumping, karena biasanya dalam tarian itu ada penampilan atraksi tari dengan menggunakan properti topeng, misalnya adanya topeng gedruk, pentul dan lainya. Jadi ini kita satukan hari ini menjadi konsep pasar setan, dari malam hari hingga siang hari, dan kemudian kenapa ada pementasan jaran kepang dilokasi ini," ungkapnya.

Dirinya berharap dengan konsep pasar setan, masyarakat menjadi tau bahwa di Purworejo ada perajin topeng dari kayu dan juga ada group jaran kepang baru. Dengan adanya pasar setan itu seni kriya di Purworejo menjadi terangkat dan bisa dikenal oleh masyarakat luas termasuk seni jaran kepang yang baru terbentuk dua bulan ini.

"Kegiatan ini akan kami jadikan tema khusus dengan nama pasar setan di lokasi pasar umpet ini dan kami buka pada malam hari," ujarnya.

Sementara itu, perajin topeng kayu asal Desa Kedung Pucang Kecamatan Bener, Basuki Raharja, mengaku bersyukur dan senang bosa diajak berkolaborasi menggelar pasar setan. Dengan pasar setan itu dirinya merasa sangat terbantu bahwa produk kerajinan buatanya bisa dikenal oleh masyarakat yang datang di lokasi itu.

"Selama ini dari seni ukir patung bingung bagaimama cara memromosikan apalagi dimasa pandemi, kebetulan disini diajak kolaborasi, harapanya kedepan produk ini bisa di kenal dimasyarakat," tuturnya.

Dirinya juga mengaku telah memproduksi topeng kayu sejal lama. Berbagai karakter buto telah dia buat menjadi topeng.

"Topeng dibuat secara custom, jadi tidak sama persis karena dibuat secara manual dan membutuhkan waktu cukup lama. Soal harga bagi yang minat bisa pesan dengan harga antara 200-600an sesuai jenis topeng dan tingkat kesulitan membuatnya," ucapnya.

Terpisah, pembina seni kuda lumping Gema Anom Budaya (GAB), Maryono, bersama ketua Group kuda lumping, Dwimantoro, juga mengaku senang bisa berkolaborasi di pasar setan. Group kuda lumping itu baru dua kali tampil di tempat umum.

"Group ini dibentuk oleh sekelompok pemuda di Desa Semawung dengan nama Gema Anom Budaya yang artinya gema anak muda untuk melestarikan budaya seni jaran kepang, kesenian asli Jawa Tengah," katanya.

Dikatakan, dengan kolaborasi itu, menjadikan ajang melatih mental bagi para pemain group kuda lumping itu untuk tampil di muka umum.

"Mental mereka sudah bagus, dan group ini siap tampil jika ada yang ingin nanggap atau membutuhkan," ujarnya.

Dirinya berharap, group seni kuda lumping Gema Anom Budaya bisa eksis, tetep guyub rukun dan bisa menyajikan tarian dengan koreografi yang baru dan bagus, sehingga bisa diminati oleh masyarakat.

"Ciri khas kami gerakannya semangat, melestarikan budaya seni kuda lumping dengan hasil tari kreasi sendiri. Saat ini kami masih proses legalitas seni di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo, harapanya bisa ikut meramaikan seni budaya di Purworejo dan bisa tampil di tempat umum," pungkasnya.