Cerita Makam Ulama Syekh Maulana Magribi Gunungwangi, Air di Sekitar Tak Pernah Kering
Budaya

Cerita Makam Ulama Syekh Maulana Magribi Gunungwangi, Air di Sekitar Tak Pernah Kering

Kaligesing,(purworejo.sorot.co)--Desa Gunungwangi, Kecamatan Kaligesing terletak di dataran tinggi 757 meter di atas Permukaan Laut (MDPL). Namun di Desa tersebut terdapat makam ulama asal negara Maroko yakni Syekh Maulana Magribi. Tempat wisata religi itu masih banyak dikunjungi peziarah hingga kini mulai dari daerah sekitar hingga luar kota bahkan luar pulau Jawa.

Berdasarkan cerita dari warga sekitar, makam penyebar agama di pulau Jawa ini dianggap memberikan berkah tersendiri bagi Desa Gunungwangi. Bagaimana tidak, meskipun terletak di dataran tinggi, air di sekitar makam tersebut tidak pernah kering. Bahkan air tersebut sudah layak minum berdasarkan uji laboratorium dari Universitas Indonesia (UI). Air tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata religi di Desa Gunungwangi ini.

Kepala Desa Gunungwangi, Priyo Dwi Prayitno mengatakan, bahwa makam ada di puncak pegunungan pada ketinggian 757 mdpl dan ada sumur bersebelahan dengan Makam Syekh Maulana Maghribi Gunungwangi yang tak pernah mengering.

"Ya, selain sumur itu, setiap warga juga punya sumur sendiri-sendiri yang juga tidak pernah kering," katanya saat ditemui pada uji paket wisata oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Purworejo beserta tim, Rabu (21/09/2022).

Diceritakan Kades Dwi, pada zaman dahulu, bahwa Syekh Maulana Magribi membawa misi untuk berdakwah di Gunung Wangi pada sekitar tahun 1435 atau 537 tahun yang lalu. Karena dinilai memiliki sejarah dan jasa yang besar, makam tersebut terus dirawat oleh warga dan saat ini menjadi wisata religi unggulan. 

"Para peziarah banyak yang dari luar kota bahkan luar pulau Jawa, pernah ada yang dari Kalimantan, di makam ini juga ada acara zikir rutin," ungkapnya.

Namun demikian, belum ada bukti autentik apakah ditempat tersebut menyimpan jasad dari Syekh Maulana Magribi atau hanya petilasan saja. Akan tetapi, jikalau dilihat dari namanya itu dari negeri Magribi, atau Maroko, makamnya juga tidak disini saja, ada yang di Parangtritis dan tempat yang lainnya.

"Ya, ada dugaan orang berbeda namun sama namanya. Namun bagi kita sendiri tidak pernah mempertanyakan, yang jelas warga sudah merasakan berkah eyang syekh," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan Kades Dwi, berkah tersebut, meski Desa Gunungwangi terletak di dataran tinggi tetapi air di sumur-sumur warga tidak pernah kering, bahkan saat musim kemarau. Di samping makam juga dibangun sumur dengan kedalaman 30 meter. Sumur tersebut mengeluarkan air yang sangat jernih dan juga bisa langsung diminum tanpa dimasak terlebih dahulu.

"Para peziarah bisa minum air dari sumur itu di tempat-tempat yang telah disiapkan pengelola," paparnya.

Pihaknya dan warga juga memutuskan untuk menggratiskan dan tidak mengkomersialkan air tersebut. Sumur mulai dibuat pada hari Jumat Kliwon, 27 Agustus 2021 dan selesai Hari Jumat Kliwon 26 September 2021.

"Dari hasil analisa semua memenuhi baku mutu Peraturan Menteri Kesehatan tentang kualitas air minum baik untuk parameter fisik, kimia, dan biologis. Sehingga sudah aman langsung untuk dikonsumsi, dengan PH 7,43," tuturnya.

Selain wisata religi tersebut, Desa Gunungwangi ini juga menyimpan banyak potensi wisata lain seperti kuliner, alam, hingga edukasi. Pihaknya berharap agar Gunungwangi bisa menjadi Desa Wisata unggulan kedepannya.

Sementara itu, Kabid Pemasaran Pariwisata, Sumber Daya Pariwisata, dan Ekraf Dinporapar Purworejo, Endah Hana Rosanti mengatakan, jika Gunungwangi telah layak menjadi desa wisata rintisan. Gunungwangi ini memiliki paket wisata yang lengkap dan sangat menarik.

"Untuk kegiatan kami hari ini memang menguji dari desa wisata. Gunungwangi sudah mendeklarasikan diri sebagai desa wisata dan kemarin sudah kita evaluasi, untuk Gunungwangi sudah kita nilai lolos sebenarnya hanya SK masih dalam proses," pungkasnya.