Ibu Meninggal, Ayah Menghilang, Gadis Ini Rawat Dua Pamannya yang Lumpuh serta Sepupunya yang Masih SD
Sosial

Ibu Meninggal, Ayah Menghilang, Gadis Ini Rawat Dua Pamannya yang Lumpuh serta Sepupunya yang Masih SD

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Seorang gadis berusia 17 tahun kelas XII SMK Negeri 8 Purworejo harus menanggung beban hidup yang tak sepantasnya ia pikul.

Bersama seorang nenek yang usianya sudah 70 tahun dia merawat dua pamannya yang lumpuh serta adik sepupu yang masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar (SD).

Gadis itu bernama Salsabila Putri Aulia, Warga Dusun Krajan, Desa Tegalkuning, Kecamatan Banyuurip Purworejo. Berbeda dengan pelajar pada umumnya, tak banyak waktu bagi Salsabila untuk bermain. Waktunya terbagi habis untuk belajar di sekolah merawat paman, adik sepupu serta tugas-tugas lain di rumah dan sekolah.

Usianya masih cukup pagi, namun dia harus menanggung beban ganda yang tak semestinya ia tanggung. Salsabila harus menyiapkan bekal untuk masa depannya. Pada sisi lain dia harus berfikir agar nenek, dua paman serta adik sepupunya bisa terus makan.

Salsabila merupakan anak tunggal dari mendiang Catur Nur Fiddina. Ibunya meninggal dunia saat dia berusia 2,5 tahun. Dia tidak mengetahui dimana ayahnya, karena sang ayah pergi dan tak pernah pulang sebelum ia lahir.

Sejak sang ibu meninggal, Salsabila diasuh sang nenek. Sejak kecil dia sudah bersahabat dengan ujian dan persoalan hidup yang datang bertubi-tubi. Semua itu ia hadapi bersama sang nenek serta dua pamanya secara tegar dan ikhlas.

"Setiap hari saya bangun jam 4, harus bangun pagi untuk masak, cuci piring setelah itu rawat paman dan menyiapkan adik sepupu untuk berangkat sekolah," kata Salsabila saat ditemui di rumahnya, Jumat (24/11/2023).

Sebelum berangkat ke sekolah dia harus mamastikan seluruh pekerjaan di rumah selesai, termasuk merawat ayam-ayam piaraan milik pamannya. Sepulang sekolah dia harus kembali mengecek pekerjaan rumah yang belum beres. 

"Kalau ada baju kotor biasanya sore baru cuci. Lalu cek dapur kalau sayur sudah habis saya masak lagi. Kalau masih ada lauk paling cuma masak nasi," ucap Salsabila.

Dua pamannya didiagnosa dokter mengidap penyakit dystonia yang mengakibatkan syaraf, otot dan tubuhnya melemah. Penyakit serupa juga dialami seorang pamannya yang sudah meninggal.

"Dulu pakde, sebelum meninggal pakde yang rawat juga saya sama mamak (nenek). Sekarang paman, dua orang yang mengalami penyakit yang sama. Kalau makan, mamak yang biasanya suap, saya bagian masak cuci baju, termasuk cuci lemeknya paman," kata dia.

Nenek Salsabila, Sudiyem mengemukakan bahwa dari delapan anaknya enam diantaranya terjangkit penyakit tersebut. Empat diantaranya sudah meninggal dunia akibat penyakit tersebut, termasuk ibu Salsabila Putri.

"Saat ini masih ada dua yang dalam perawatan di rumah. Laki-laki, kakak beradik. Yang satu sudah delapan tahun satunya sudah lima tahun," kata Sudiyem.

Sudiyem mengungkapkan, sejak anak-anak sakit dia tidak bisa bergi kemana-mana, bahkan sekadar main di rumah tetangga. Mengingat, kedua anaknya membutuhkan perhatian penuh.

"Kalau yang tua masih agak mending, masih bisa makan sendiri, masih bisa bicara. Kalau yang satu hanya terbaring ditempat tidur, semua hal harus dibantu," ungkapnya.

Sudah belasan tahun Sudiyem menjalani hidup seperti itu. Dia bersyukur masih punya cucu Salsabila Putri yang mengerti dan memahami kondisi kedua pamannya. Untuk mencukupi kebutuhan hidup dia bersama Salsabila yang mengharapkan penghasilan dari usaha produksi keripik pare serta renggenan.

Penghasilan dari usaha tersebut jauh sangat minim bahkan jauh dari kata cukup.

"Kami tidak punya sawah, ladang maupun kerjaan lain. Hanya ini yang kami bisa. Ada ternak ayam, lumayan juga untuk tambah-tambah," imbuhnya.

Temukan dan langganan berita lainnya di Google News, Sorot Purworejo.