Warga Kutoarjo Jadi Korban Bisnis Produksi Minyak Kelapa, Merugi Hingga Miliaran
Hukum & Kriminal

Warga Kutoarjo Jadi Korban Bisnis Produksi Minyak Kelapa, Merugi Hingga Miliaran

Purworejo,(purworejo.sorot.co)--Seorang warga Desa Semawung Daleman, Kutoarjo Purworejo merasa menjadi korban penipuan dalam bisnis produksi minyak kelapa atau virgin coconut oil (VCO). Uang senilai kurang lebih Rp1,1 miliar milik korban melayang dalam peristiwa tersebut.

Perkara tersebut saat ini sedang bergulir di Pengadilan Negeri Purworejo. Sidang Perdana dengan agenda pembacaan dakwaan dilaksanakan pada Rabu (29/11/2023). Korban diketahui bernama Budi Utomo, sedangkan terduga pelaku yang kini sudah berstatus terdakwa diketahui bernama Alfonsus Eko Suhartanto.

Budi menceritakan, dirinya bertemu dengan terdakwa pada Januari 2023. Dia tak menyangka perkenalannya dengan Alfonsus akan membawa kerugian materi yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

"Awalnya dia main ke tetangga saya. Kita kenalan di situ. Setelah kenalan dia berulang kali ke rumah cerita-cerita soal bisnis produksi VCO. Dia kasih lihat bukti-bukti berupa pabrik VCO di Halmahera, Maluku Utara. Katanya itu miliknya dan akhirnya saya tertarik untuk bekerjasama," kata Budi, sebelum masuk ke ruang Sidang.

Dia menjelaskan dalam kerjasama itu terdakwa mengajak korban untuk membuat pabrik minyak kelapa terpadu. Terdakwa siap membantu dengan membelikan seluruh mesin produksi yang dibutuhkan meliputi satu set mesin VCO seharga Rp665 juta, mesin pemeras ampas senilai Rp105 juta, mesin pembuat tambang Rp250 juta, mesin Gajah Rp50 juta serta dua mesin kupas kelapa seharga Rp 56 juta. 

"Waktu itu terdakwa sampaikan, untuk pembelian mesin dia yang talangi dulu. Setelah mesin sampai baru saya bayar. Dari situ saya tertarik dan bersedia untuk bekerjasama," katanya lagi.

Saat itu terdakwa juga memberikan iming-iming bahwa usaha tersebut mampu memberi profit hingga Rp5 juta perhari. Bahwa terdakwa siap menampung VCO hasil produksi untuk selanjutnya akan diekspor ke negara Ukraina.

Budi berharap semua pihak yang terlibat dalam aksi itu diseret menjadi tersangka, termasuk istri terdakwa serta satu rekannya. Menurutnya seluruh pelaku harus bertanggungjawab secara hukum.

"Ini bukan kali pertama, sebelumnya saya dia juga melakukan aksi yang sama di Halmahera. Kerugiannya bahkan mencapai Rp2,5 miliar, bangun pabrik VCO juga," ujarnya menambahkan.

Dia mengemukakan, aksi ini dilakukan dengan membujuk para korban. Di Halmahera terdakwa diduga menggunakan cara serta pola yang sama, yakni membangun pabrik dengan seluruh belanja mesin dilakukan oleh terdakwa. Selanjutnya dia akan meminta korban untuk membayar.

"Dengan cara ini, terdakwa melakukan mark up, atau menaikan harga yang jauh lebih tinggi dari harga sesungguhnya. Selanjutnya, terdakwa juga melakukan pemalsuan bukti transfer. Sehingga korban merasa percaya," imbuhnya.

Dia menambahkan bahwa benar pabrik VCO yang dibangun di Semawung Daleman itu sempat beroperasi, namun produksi minyak kelapa dari pabrik tersebut tidak diekspor seperti yang pernah disampaikan terdakwa kepada dirinya.

"Kalau kami hitung, dari awal pembelian mesin hingga biaya produksi kerugian kami mencapai Rp2 miliar," pungkasnya.

Kuasa hukum terdakwa, Dedy Kurniawan saat dijumpai usia sidang mengatakan bahwa seharusnya kasus tersebut masuk dalam perkara perdata. Menurutnya kasus yang menyeret kliennya itu berupa kegiatan atau transaksi jual beli. Diantaranya kedua belah pihaknya pun sama-sama bersepakat terhadap transaksi tersebut.

"Unsur-unsurnya seharusnya perdata, bukan pidana, karena ini kegiatan jual beli. Sudah ada kesepakatan antara keduanya. Namanya jual beli, mau menambahkan harganya itu kan boleh-boleh saja. Undang-undang perlindungan konsumen pun tidak melarang itu," katanya.

Pada sidang berikutnya pihaknya siap menyampaikan eksepsi terhadap dakwaan yang disampaikan Jaksa penuntut umum pada sidang tersebut.

Temukan dan langganan berita lainnya di Google News, Sorot Purworejo.