Babak Baru Kisruh STIKES Purworejo, Pendiri Gugat Eksekusi Putusan MA
Hukum & Kriminal

Babak Baru Kisruh STIKES Purworejo, Pendiri Gugat Eksekusi Putusan MA

Purworejo,(purworejo.sorot.co)-Menang atas putusan kasasi di Mahkamah Agung (MA), para pendiri Akademi Perawat (Akper) kini mengajukan gugatan eksekusi serta merta ke Pengadilan Negeri Purworejo. Upaya damai tumpul, kini para pendiri awal yayasan Manggala Praja Adi Purwa ingin menempuh segala proses hukum.

Seperti diketahui, AKPER kini sudah berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Pemkab Purworejo. Perubahan nama itu dilakukan oleh sejumlah pengurus yayasan yang baru.

"Dari awal saya sudah berupaya komunikasi dengan mereka. Sudah berupaya memediasi sejak tahun 2014. Mari duduk, kita selesaikan semua prosesnya, tapi mereka menolak. Maka sekarang kami tempuh proses hukum," kata Akhmad Fauzi salah satu pendiri Yayasan Manggala Praja Adi Purwa, Rabu (7/2/2024).

Mengacu putusan MA pada sidang kasasi tersebut, Fauzi yang didampingi kuasa hukumnya, Dewa Antara menjelaskan bahwa kehadiran Yayasan Manggala Adipurwa Purworejo yang kini mengelola STIKES adalah tidak sah. Pasca putusan MA yang sudah inkrah tersebut, penyusunan nama-nama pembina, pengurus, hingga pengawas dalam yayasan tersebut batal demi hukum. 

Selanjutnya dia mendorong agar nama serta seluruh pengurus, pembina dan pengawas yayasan pengelola STIKES dikembalikan pada akta notaris nomor 35 tahun 2002. Pengelolaan aset AKPER yang kini dilakukan Yayasan Manggala Adipurwa Purworejo harus dikembalikan kepada Yayasan Manggala Praja Adi Purwa.

Dia mengemukakan, pembentukan Yayasan Manggala Adipurwa Purworejo pada 2016 dilakukan dengan proses yang tidak benar. Kala itu beberapa orang pengurus mengurus akta baru untuk mengubah nama yayasan yang telah disahkan pada akta nomor 35 tahun 2002.

"Waktu itu mereka mau urus di Purworejo tapi kantor Notaris di sini semua menolak. Selanjutnya mereka berkonsultasi dengan seseorang di Semarang lalu mereka diarahkan mengurus akta di Demak hingga terbit akta baru dengan nama Yayasan Manggala Adipurwa Purworejo," sebut Fauzi

Menurutnya, mereka bisa membuat akta atau yayasan baru namun harus dilakukan sesuai aturan. Diantaranya harus ada penyerahan aset dari pengelola yayasan sebelumnya serta harus ada audit selama 5 tahun.

"Sebetulnya ada unsur pidana dan itu belum saya garap, pertama soal penyerobotan aset. Karena sampai saat ini kami belum menyerahkan aset AKPER tapi dengan yayasan yang baru mereka sudah mengelola kampus dan mengubah nama menjadi STIKES Pemkab hingga saat ini," ujarnya

Berikutnya, pelanggaran terhadap Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa mereka yang tidak memiliki hak, tidak boleh menyelenggarakan pendidikan, memberikan gelar serta mengeluarkan ijazah.

"Ini ancaman hukumnya 10 tahun penjara. Tapi saya tidak mau menggarap itu, saya masih punya hati, saya tidak mungkin memenjarakan teman-teman saya sendiri yang sudah kenal lama. Kita kenal sudah 20 tahun dan pernah bekerja dalam satu kantor," kata Fauzi.

Terkait perkara ini, pada Selasa (7/2/2024) Pengadilan Negeri Purworejo telah menggelar sidang. Pada sidang tersebut Ketua Majelis Hakim Santonius Tambunan memutuskan untuk digelar proses mediasi antara tergugat dengan penggugat. Siang itu proses mediasi pun langsung dilaksanakan.

Dewa Antara membeberkan, mediasi itu hanya membahas tentang proses mediasi yang akan digelar pada mediasi berikutnya. Mediasi kedua akan dilaksanakan pada 12 Februari 2024.

Fauzi menambahkan, jika para pengelola yayasan Manggala Praja Adipurwa Purworejo beritikad baik dan legowo mengembalikan aset kepada pada pendiri awal yayasan, pihaknya akan melupakan seluruh persoalan terkait Akper. Pihaknya pun siap menjalin kerja sama dalam mengelola kampus tersebut.

"Tapi kalau mereka tetap tidak mau, dan kami harus mengambil alih melalui putusan pengadilan maka saya akan menempuh seluruh proses hukum, termasuk aspek pidananya akan saya garap," demikian tegas Fauzi.***

Temukan dan langganan berita lainnya di Google News, Sorot Purworejo.